BERMULA DARI BIDAYAH

Antara tahun 2006-an sampai saat ini, barangkali saya adalah salah seorang dari sekian guru yang mengalami frustasi, ketika kekacuan tatakrama dan moral force sebagai stronghold adat ketimuran hancur binasa, atau paling tidak, hampir binasa. Tidak terkecuali mereka yang belajar di lingkungan pesantren.

Di tengah-tengah Tahafut al-Tahafut (rumitnya kerumitan) pikiran saya itulah—meminjam judul buku Ibnu Rusyd yang menanggapi Tahaful al-Falasifahnya Al-Ghazali—saya kemudian teringat Al-Ghazali, seorang imam yang semula saya kenal lewat buku Bidayatul Hidayah.

Pada saat saya mulai membaca Bidayatul Hidayah, ketika itu umur saya sudah merangkak naik lima belas tahun. Berarti pada masa itu, umur saya sama seperti saat Al-Ghazali belajar ilmu fiqh kepada Imam al-Isma’ili di Turjan (160 Km dari kota kelahirannya, Tus). Sesuatu yang paling saya ingat dari buku itu sampai saat ini adalah, adabul muta’allim.

Apa boleh buat, hanya itu yang saya ingat sampai saat ini, tidak lebih. Sebab waktu itu, saya hanya belajar untuk memenuhi tuntutan studi. Padahal, pelajaran bidayatul hidayah, adalah pelajaran adab, yang menurut Prof. Muhammad Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan” serta “pengakuan” akan posisi seseorang. “Pengenalan” adalah ilmu, sedangkan “pengakuan” adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal. Sedangkan pengakuan tanpa pengenalan, seperti amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia karena yang satu mengindikasikan keingkaran dan keangkuhan, sedangkan yang satu lagi membuat ketidaksadaran dan kebodohan. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).

Sub judul Adabul Muta’allim yang masih saya ingat-ingat itu, akhirnya saya temukan di halaman-halaman terakhir antara halaman 122-123, setelah tujuh tahun lamanya saya museumkan di dalam kardus. Al-Ghazali, sebagai seorang yang penuh dengan kepekaan sosial, berhasil menulis secara terperinci hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru, murid, dan masyarakat umum dalam hal tatakrama.

Dalam tulisannya, setidaknya Al-Ghazali menulis 13 hal yang perlu diperhatikan seorang murid dalam bermuamalah dengan gurunya. “Kalau engkau adalah seorang murid maka ada 13 etika yang harus engkau perhatikan”, tulis Al-Ghazali;  Pertama, pada saat engkau bertemu dengan gurumu maka engkau sebagai murid, harus terlebih dahulu mengucapkan salam dan penghormatan. Di dalam sebuah syarh disebutkan juga sebuah pengertian, bahwa apabila engkau terlambat dalam memasuki kelas atau pengajian yang bukan untuk umum maka janganlah langsung masuk, melainkan meminta izin terlebih dahulu kepada gurumu.

Kedua, janganlah engkau banyak bicara sebelum diminta untuk bicara atau diberi kesempatan untuk bicara. Ketiga, engkau tidak banyak bicara kecuali jika engkau ditanya oleh gurumu (apabila gurumu lupa atas suatu materi, hadits dll, maka janganlah kamu mengingatkan secara langsung di depan umum, melainkan kalau engkau telah ditanya oleh gurumu, atau jika setelah ada kesempatan diskusi berdua). Keempat, Tidak menanyakan sesuatu, kecuali setelah engkau izin kepada gurumu dengan cara mengangkat tangan.

Kelima, tidak mengucapkan sesuatu yang bertentangan pada gurumu dan apabila kamu ingin membenarkaan, janganlah engkau berkata: “Ustadz, kalau ustadz Fulan mengatakan begini, terus siapa yang benar ustadz?” sebab itu merupakan adu domba, dan apabila engkau ingin membenarkan, maka bawalah buku dan sampaikan dengan sopan! Keenam, Janganlah kamu memberi pendapat yang bertentangan pada ustadzmu, apabila kamu ingin berkomentar maka berkomentarlah dengan cara berdiskusi. Ketujuh, janganlah kamu bertanya sesuatu pada temanmu pada saat guru menerangkan sesuatu. Kedelapan, bukan dari adab seorang murid apabila pada saat pelajaran berlangsung, murid tersebut menolah-noleh, bergurau dan semacamnya (tidak fokus pada pelajaran).

Kesembilan, tidak memperbanyak pertanya’an (apabila gurumu berada dalam kesibukan atau saat terburu-buru). Kesepuluh, apabila gurumu berjalan ataukah bangun dari tempat duduk maka berdirilah maka itu termasuk adab. Kesebelas, apabila gurumu berjalan janganlah engkau memotong jalannya (kecuali dengan izin). Keduabelas, janganlah engkau menanyakan sesuatu pada gurumu saat berada di jalan, kecuali setelah ada izin. Ketigabelas, janganlah engkau sû’udzon (berperasangka buruk) pada gurumu. Sebab prasangka buruk terhadap guru, merupakan pertanda sû’ul khuluqi maka kamu tidak akan menerima barokah ilmu yang telah ia berikan kepadamu.

 Setelah pelajaran kutub at-turots selesai, saya hampir hafal keseluruhan pasal etika itu. Namun hanya 10 persen yang saya amalkan. Hal itu berarti saya masih berada taraf mengenal, yang menurut Prof. Naquib, taraf itu adalah taraf kesombongan dan pengingkaran. Saya tidak tahu, apakah saat ini semua santri sudah mengamalkan etika belajar yang diajarkan Al-Ghazali ini, sebagai cerminan pribadi positif seorang santri? Semoga prasangka baik ini segera terjadi di tengah-tengah kegelisahan saya, dan kenangan saya bersama Al-Ghazali yang waktu itu saya kira sebagai kiai di AL-AMIEN ini.

Namun permasalahan selanjutnya, yang mungkin perlu direnungkan bersama adalah, kenapa justru santri senior yang semakin alim dalam berbahasa arab dan menelaah kitab kuning, termasuk menerjemahkan kitab Bidayatul Hidayah, semakin jauh dari pengamalan 13 pasal etika Al-Ghazali. Dua kemungkinan yang barangkali terjadi. Pertama, belum terbukanya hidayah bagi mereka. Kedua, kita memang belum memiliki jiwa guru yang baik. Jika yang kedua yang menjadi sebab, maka bukan salah Ibrahim a.s membantah ayahnya—yang guru dan orang tua—dengan perkataan. “Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74).

Namun, jika yang pertama yang menjadi penyebab, dengan melihat cerminan kenyataan orang-orang yang tidak mengenal tatakrama malah jauh lebih sukses dibanding kita. Maka saya perlu mengutip sebuah pernyataan Al-Ghazali tentang kebenaran. Ia mengatakan, kebenaran bukanlah sebuah kesimpulan kognitif yang cocok dengan kenyataan. Yang paling utama adalah keyakinan. Wallahu a’lam.

 *Sebuah reunangan seorang guru yang sudah abstain berbulan-bulan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s