Barangkali menjadi penyair bukan hanya menulis puisi. Lebih dari itu, menjadi penyair harus pula menjadi penyihir. Itulah barangkali kesan yang saya terima setelah membaca puisi-puisi Hanna Fransisca dalam buku Konde Penyair Han.
Puisi-puisi Hanna dalam Konde Penyair Han (Katakita, 2010), bagi saya memang seperti mantra suci yang membuat pembaca terpana dan kemudian termotivasi untuk terus mencintai mantra itu sendiri. Sehingga kemudian terjadi dialektika penyihir-tersihir, antara penyair dan pembaca. Bait itu saya kenal dengan judul, Tentang Kita 1;
…
Malam, siang, berganti dengan aneh dan selalu sama.
Gairah hidup memeras peluh.
Engkau tetap mendekap erat, bulan yang kini berkarat.
Aku melihatmu, engkau melihatku, kita saling pandang.
Duhai, apa yang sedang bergumul di depan mata?
Andai kubisa, ingin terjun dan tenggelam
dalam kubangan sakitmu.
…
Lihatlah, betapa menyihirnya puisi ini dengan kalimat yang sangat sederhana dan tidak mendayu-dayu, namun apologetik, bahwa Han adalah orang yang sangat kuat menjalankan ajaran berbakti dengan menyangi kekasihnyaatau barangkali suaminyauntuk waktu yang lama. Pemilihan diksi malam, siang, berganti dengan aneh dan selalu sama, tentu bukanlah hal yang biasa. Ia menyiratkan bahwa betapa sulitnya memahami hidup dan pergantian siang dan malam. Penyair dengan rendah hati, tetap dalam potensi kemanusiaannya yang tidak selalu bisa memaknai hari dan waktu dengan persetujuan logika. Diksi dalam puisi ini memang terasa sederhana, tetapi pengertian “aneh dan selalu sama”, tidak bisa secara serta-merta dimaknai sebagaimana kita memaknainya dalam kalimat sehari-sehari.
Pengertian “dan selalu sama”, bisa jadi merupakan perasaan cinta seorang Hanna yang selalu berada dalam kotak ketulusan pada kekasihnya, walau telah tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama dan dalam gelombang masalah yang dialami sang kekasih.
Rasanya itulah sihir pertama yang Hanna letakkan di halaman 97. Sihir, tentu merupakan sesuatu yang dilakukan dengan pesona. Karena itu, Hanna sebagai penyihir, tidak berhenti di satu puisi itu, ada beberapa puisi yang tentu lebih fantastis jika dibaca dengan cara yang berbeda-beda. Bukankah pesona bisa lahir dari hal yang beragam?
Sihir-sihir yang dilakukan Hanna, bagi saya terbagi atas tiga hal, pertama tentang perasaan cinta, ironi, dan tragika. Namun hal yang mungkin secara subjektif saya anggap sangat menyentuh dan mempesona adalah, apa yang tertulis dalam judul “Puisi Kacang Hijau”. Dalam puisi ini, terasa kuat bagaimana Hanna ingin menampilkan betapa kerisauan dan ketulusan seorang Ibu kepada anak-anaknya, di saat-saat etnisitas tumbuh begitu dahsyatnya di Indonesia. Puisi itu berbunyi;
….
Hingga senja tiba
menunggu usia binasa
ibu menuangkan seluruh dirinya
ke dalam mangkuk, lalu menitipkan anak-anaknya
pada hidup yang akan menjadikannya dewasa
“ini kacang hijau
atau hatimukah,
yang kami makan hari ini, bersama Tuhan yang selalu
kauajak
bicara”
(Puisi Kacang Hijau)
Saya menanggapi ini tentu bukan sebagai sebuah ironi sebagaimana diucapkan Sapardi Djoko Damono. Sebab, itulah sesuatu yang harus dan sering dilakukan oleh seorang ibu untuk anak-anaknya dengan penuh kesadaran. Karenanya, Islam sangat memuliakan seorang ibu. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika Hanna menulis bait “ini kacang hijau/atau hatimukah,/yang kami makan hari ini, bersama Tuhan yang selalu/kauajak/bicara”. Perlambangan semacam ini tentu sangat menarik, dimana seorang anak sangat mengerti bahwa dalam hidangan yang dibuat ibunya, adalah kasih sayang yang maha sukma.
Itulah kepiawaian Hanna dalam menyihir pembaca, ia menggunakan kalimat sesederhana mungkin, dan seirit mungkin. Rupanya ia ingin menjaga stamina dan energi kata-katanya, dan bukan kekurangan kata-kata. Sebab, dalam puisi-puisi yang ditulisnya, hampir semua kata-katanya teracik dalam racikan khas pribadinya. Hanya saja, saya sebagai pembaca, merasa puisi dalam “Konde Penyair Han” kadang mengalami turbiditas yang menghantui kode-kode dan simbol-simbol yang tak pernah tuntas saya maknai.
***
Lahir sebagai etnis tionghoa Indonesia, sudah barang tentu Hanna mengalami marginisasi sosial. Karenanya, dalam beberapa puisi yang ditulis oleh Hanna adalah puisi-puisi yang bertemakan tragika dan ironi. Hal ini menjadi penting bagi kepenyairan Hanna, karena bagaimana pun, pengalaman-pengalaman subjektif yang penuh dengan pengorbanan, merupakan gejolak arus yang harus terus ada untuk sampai pada tujuan. Sebagaimana pecutan seorang penunggang kuda, akan membuat kuda lebih cepat melajukan kakinya. Begini Hanna menulis;
….
Berulang kali perempuan agung itu berkata:
“bertahanlah Moi,
jangan takut rumput menutup jalan
sebab harum bunga akan bicara”
(Puisi Piring Kaleng)
Puisi ini merupakan salah satu dari sekian puisi Hanna yang membahas tentang etnisnya. Di bawah judul puisi ini, hana menuliskan nama Abdurrahman Wahid. Tentu sangat bisa dipahami, jika Hanna menuliskan nama tersebut sebagai perwakilan rasa terima kasih. Karena sejak Gus Dur menjadi presiden, sejak itulah etnis Tionghoa mulai diakui.
Setidaknya, sebagai perbendaharaan perbandingan, bisa juga dibaca puisi berikut, bagaimana Hanna ingin sekali menjadi orang yang tidak menggerutu dan putus asa, namun tidak menentang. Apakah itu sakit?/Dengarkan: sakit yang melampaui batas sakit/akan menghilangkan rasa sakit./Sebab engkau memang tengah sekarat./Tapi hal terpenting dalam semua pelajaran: adalah bakti/dari seluruh bulumu sepenuh hati./ Saya rasa, puisi ini pun sama, sebuah puisi yang diperuntukkan kepada Gus Dur.
Kemudian Hanna juga menulis sebuah ironi;
….
Tanah air adalah tanah bagi asal segala,
darinyalah engkau dan kemudian tiada.
Tanah air adalah tempat aku lahir,
tapi dimanakah tanah airku kini berada?
….
Semua tentu boleh menanyakan ini, dimanakah tanah air orang-orang miskin, pedagang kaki lima, dan lain sebagainya. Jika mereka menanyakan itu, apalagi Tionghoa pada masa orde baru?
Walau tidak secara utuh dan mendalam saya membahas puisi-puisi Hanna dalam KPH, tapi saya sudah merasa beruntung. Sebab who touches the body of a woman touches the sky. Siapa yang menyentuh tubuh wanita, berarti telah menyentuh langit, dan saya telah menyentuh tubuh puisi Hanna.