DAMAI TANPA PLEDOI


Ketika saya kecil dulu, saya sering kali berjingkrak-jingkrak sambil membawa pistol-pistolan yang terbuat dari bambu. Saat itulah saya sedang menyaksikan sebuah film dokumenter tentang peristiwa G 30 S/PKI.

Saya yang saat itu gemar sekali mendengar suara tembakan dan ledakan, akan berteriak-teriak senang kegirangan sambil mengepalkan tangan, kemudian secara drastis menangis ketika melihat adegan kuku kiai dan ulama dicopoti dengan sadis oleh orang-orang komunis. Ah, itu dulu sekali sewaktu saya masih suka sekali mendengar suara ledakan dan tembakan.

Setelah dewasa saya kemudian bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada masa itu, sehingga negara seakan-akan berada dalam ketegangan dan chaos yang sangat, kemudian Soeharto harus mengambil alih kepemimpinan dalam rangka pemulihan keamanan nasional.

Jika melihat kembali film yang diputar setiap bulan September pada masa Orde Baru itu, maka diketahui bahwa yang terjadi saat itu adalah didengarnya rencana perebutan pos kekuasaan oleh sekelompok Dewan Jenderal yang anti komunis, sehingga kemudian ditanggapi dengan penculikan jenderal-jenderal oleh pasukan kolonel Untung yang ingin membentuk kabinet NASAKOM. Endingnya, Soeharto menjadi pahlawan pengaman Negara. Tapi apakah semua hal itu benar adanya?

Saya tidak terlalu memusingkan hal itu, karena saya memang tidak begitu suka dengan sejarah semacam itu. Bagi saya sejarah Indonesia telah ditunggangi banyak kepentingan. Hingga suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan seorang sastrawan dan budayawan, Taufik Ismail. Dia kemudian berkomentar tentang peristiwa itu, bahwa PKI memang penjahat besar, tetapi pendekarnya—mengambil kata dalam serial laga—bukanlah Soeharto.

Berbeda lagi jika saya membaca “Surat-Surat Politik” Iwan Simatupang yang sampulnya hampir pudar. Dalam buku itu, Iwan senada dengan film G 30 S/PKI, ia membangga-banggakan Soeharto. Tetapi kemudian saya tersenyum membaca tahun penerbitannya, 1986. Suatu tahun dimana saya belum lahir, dan kebebesan hanya bagi mereka yang pro Soeharto. Dari banyaknya rekaman sejarah yang berlainan tafsir itu, kemudian saya bingung menentukan sikap. Tapi apa boleh buat, beginilah sejarah Indonesia kita. Alur dan kebenarannya selalu bergantung kepentingan.

Kebingungan-kebingungan itu membuat saya semakin tidak ingin ambil pusing untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang sedang melakukan pengkhianatan. Selebihnya, saya hanya ingin mengambil pelajaran, bahwa hidup secara mulia dan terpandang tidak perlu berpledoi dan menewaskan 3.000.000 orang manusia. Sebab, jika tiga juta orang manusia itu adalah orang-orang soleh, betapa mulianya negara kita.

Karenanya, saya kemudian tidak ingin berjingkrak-jingkrak lagi jika mendengar ledakan. Cukup sekali saja ledakan yang sangat merisaukan ini terjadi di Indonesia. Tetapi yang namanya anak muda, sering kali ingin mengetahui siapa yang benar, dan mentok-mentoknya akan berujung pada pertengkaran antar kawan diskusi.

Saya selalu merasa, bahwa memandang tragedi yang terjadi pada tahun 1965 itu tidak perlu lagi dilihat siapa sebenarnya yang pahlawan dan yang bukan. Sebab jika kita terus memperdebatkan kebenaran maka yang ada adalah kebuntuan Sejarah. Akan tetapi walau demikian, yang harus disimpan lekat-lekat dalam otak dan hati kita: komunis tidak lain dan tidak bukan adalah hantu sekaligus iblis.

PKI (Politik Kekuasaan Indonesia)

Saya memohon maaf, jika telah lancang membuat penjabaran akronim PKI jauh dari standar kebakuan bahasa Indonesia. Saya tidak bisa melepaskan diri dari pandangan subjektif saya, bahwa PKI sebenarnya berawal dari konflik kekuasaan. Saya selalu bertanya, siapakah Dewan Jenderal itu, dan apa saja program kerjanya jauh sebelum tragedi 30 September 1965, siapakah Untung yang sebenarnya, Kenapa Soekarno gencar mengkampanyekan nasakom, terakhir siapakah Soeharto itu?

Saya sedikit optimis dengan pernyataan saya itu, karena telinga saya selalu dibisikkan pernyataan Mikhail Tomsky, sang tokoh buruh Rusia “Tentu saja kami mengizinkan adanya partai-partai lain. Tetapi prinsip dasar yang membedakan kami dari negara-negara barat adalah satu partai berkuasa, yakni partai komunis. Sedang partai-partai lain berada dalam penjara!”

Kemudian di telinga saya yang lain, Josef Stalin juga menyatakan : “Negara kami adalah negara diktator protelariat, dan kediktatoran ini dikuasai oleh partai tunggal, partai komunis, yang tidak bisa dan tidak akan bisa berbagi kekuasaan dengan partai-partai lain.”

Nah, kedua pernyataan itulah yang kemudian membuat saya semakin yakin bahwa saya BENAR. Mungkin anda akan beranggapan bahwa saya adalah seorang yang tinggi rasa, sehingga melakukan pembenaran sepihak. Tetapi begitulah, saya meyakini tragedi 1965 berawal dari konflik kekuasaan.

Di sisi lain, bisa dibuktikan dengan realita bahwa Soeharto Cs sebagai panglima rendahan juga ingin merasakan kenyamanan berada dalam kekuasaan yang dimiliki Untung Cs, dan alangkah luar biasa—dengan segala kelicikannya—dia mampu menggantikan calon presiden seumur hidup. Inilah segetiga perebutan tampuk kepemimpinan.

Pertanyaannya sekarang, apabila di Indonesia sikap dan spirit ingin berkuasa untuk kepentingan pribadi dan spirit korupsi muncul, akankah komunisme di Indonesia juga kembali hidup? Maka saya akan menjawab dengan sangat lantang, bahwa jika demikian adanya, maka spirit KOMUNISME PASTI HIDUP LAGI. Bisa jadi simbol yang dipakai bukan lagi palu-arit. Sebab hal itu sudah maklum dikenal masyarakat. Bisa jadi simbolnya berubah menjadi cangkul-dayung. Karena masyarakat melarat dan marginal saat ini, adalah mereka yang bertani dan nelayan. Hal ini sangat mungkin, karena orang lapar sangat mudah terprofokasi.

Ah, saya jadi takut jika berjalan-jalan dan bertemu dengan nama perpolitikan Indonesia. Sebab, setiap kali saya mendengarkan nama itu dibicarakan, saya seakan mencium bau hantu komunisme melayang-layang dari mulut politik(us).

Kesenjangan Sosial, Agama, dan PKI

Pertanyaan saya kemudian, apa sebenarnya yang membuat kaum komunis memiliki banyak penganut. Kenapa sedemikian banyaknya kaum buruh yang menjadi pengikutnya. Maka saya akan menjawabnya lagi secara sepihak. Bahwa—menurut pikiran saya—kesenjanganlah persoalannya.

Saya rasa, tidak ada suatu paham yang memiliki massa yang banyak, kecuali dia memberikan pengaruh yang tinggi kepada masyarakat awam (miskin dan marginal). Atas dasar itulah termasuk kalangan komunis seakan berbaik hati kepada buruh tani, melalui perdana menteri Republik Rakyat Cina Chou En Lai, PKI meminta untuk mempersenjatai kaum buruh dan kaum tani.

Karenanya masing-masing kita perlu merenung bahwa komunisme akan segera menyusup ke dalam Negara yang rakyatnya miskin dan tidak mendapatkan keamanan secara baik. Saya semakin keder jika saya terus melihat banyak orang lapar di jalanan dan sawah-sawah yang rusak dimakan hama, jika melihat TKW semakin hari semakin tidak  terurus dan pulang dengan sangat mengenaskan. Jika tidak mati dan lebam, ya hilang keperawanan. Setidaknya yang gencar saat ini Sumiati dan Herlis. Sementara pajak yang seharusnya menjadi bagian mereka terutama dalam pembangunan sarana dan prasarana kemudian dilenyapkan dalam perut Gayus.

Namun yang lebih saya khawatirkan lagi adalah permasalahan agama. Jika agama semakin hari semakin tidak dipandang sebagai ajaran hidup, melainkan hanya sebatas identitas dalam kartu kewarganegaraan, maka saat itu juga spirit komunisme akan bermunculan. Intinya, keadaan chaos, kesenjangan, dan agama yang tidak dijalankan adalah sumber malapetaka. Sehingga muncullah semangat ingin memberontak. Jika itu terjadi, komunisme yang pada dasarnya ingin menguasai suatu kawasan tertentu dengan cara apapun, akan masuk dan merajalela.

Oh ya, rasanya saya perlu mencuplik kalimat Karl Marx bahwa “Agama dalah madat bagi masyarakat. Menghujat agama adalah syarat utama semua hujatan. Agama harus dihancurkan karena agama mengilusi rakyat dalam memperoleh kebahagiaan yang sejati. Agama hanyalah matahari palsu yang beredar di sekitar manusia apabila ia tidak mengamati sekelilingnya.”

Sebelum saya selesai menulis esai ini, saya curiga jangan-jangan komunisme memang sedang tumbuh dari akar-akar yang belum sepenuhnya mati di Indonesia.

Satu pemikiran pada “DAMAI TANPA PLEDOI

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik aksi Anggodo, Budionoh, Gayus, Robert, Susiloh, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, murnikan Tauhid & tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s