Dengan rahmat Allah dan karunia rizki Tuhan, Alhamdulillah kita masih bisa bersama-sama menikmati jamuan indah zamrud khatulistiwa, Indonesia. Bangsa yang kaya dan berlimpah manusia. Terhampar luas dan tumbuh subur berbagai jenis tumbuhan, berbagai jenis kayu dan pepohonan, sehingga untuk menjadi bangsa yang maju, Indonesia sangatlah berpeluang.
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya hormati,
Dengan rahmat Allah dan karunia rizki Tuhan, Alhamdulillah kita masih bisa bersama-sama menikmati jamuan indah zamrud khatulistiwa, Indonesia. Bangsa yang kaya dan berlimpah manusia. Terhampar luas dan tumbuh subur berbagai jenis tumbuhan, berbagai jenis kayu dan pepohonan, sehingga untuk menjadi bangsa yang maju, Indonesia sangatlah berpeluang.
Enam puluh tiga tahun lamanya, Indonesia dipercaya seluruh dunia, sebagai Bangsa dan Negara yang berdaulat, pertumbuhan laju revolusi melahirkan reformasi sebagai bukti kedaulatan, dan reformasi melahirkan demokrasi yang semakin mapan. Namun pertanyaannya, kenapa sampai saat ini kita masih berada dalam rata-rata kemiskinan. Masyarakat yang katanya kaya-raya, masih menjadi budak di negeri sendiri, kenyamanan dan kesejahteraan masih semacam fatamorgana yang diangankan.
Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air,
Kemiskinan dan ketidaknyamanan merupakan suatu indikasi bahwa stratifikasi sosial kita berada pada lapisan yang “primitif” karena tidak menghasilkan pertumbuhan yang positif. Kemiskinan kita sampai saat ini masih berada pada posisi yang sangat kritis. Bisa kita bayangkan, betapa bangsa yang memiliki jumlah penduduk relatif banyak, dengan pencapaian angka 230 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,33 persen pertahun, masih mengharapkan tenaga ahli luar negeri demi membantu suksesi laju pertumbuhan bangsa ini. Begitu pun, bangsa yang kaya akan sumber daya alam, masih saja penduduknya lari ke negeri jiran untuk mengais rizki yang hanya cukup untuk dimakan.
Lantas apa yang salah dengan Indonesia? Ini adalah pertanyaan singkat yang akan kita coba bahas dalam orasi tentang pemimpin yang berakhlakul karimah. Bangsa ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bangsa maju lainnya, bangsa ini memiliki sumber daya waktu, alam, dan manusia yang memadai. Namun sayangnya kita masih belum mendapatkan seorang pemimpin transformatif yang membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Walaupun diakui, memanglah dalam diri kita masih dipenuhi oleh dosa warisan yang ditinggalkan oleh penjajah, sehingga kita memiliki mental yang lemah. Lantas pertanyaannya, apakah kita sudi menjadi bangsa yang terbelakang atau hanya sebatas Negara berkembang?
Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air,
Menjadi konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial, untuk hidup berkelompok, hidup berjamaah. Sebab, makhluk yang lebih rendah tingkatannya dari manusia saja, hidup dalam ikatan berkelompok. Kita lihat sajalah umpanya tata cara hidup gajah, kuda liar dan lain sebagainya, mereka hidup dengan rapi dan teratur. Tata cara hidup lebah, lengkap dengan rajanya, hulu balang-hulu balang, prajurit-prajurit, serta karyawan-karyawannya. Sungguh suatu tata cara hidup yang seragam dan harmonis. Potensi manusia sebagai makhluk sosial, hanya bisa berkembang maju, bila ia hidup dalam ikatan satu sama rata dalam kelompok jama’ah yang teratur. Dan bisa dipastikan, tidak akan ada jamaah yang beraturan tanpa adanya kepemimpinan. Bahkan dalam suatu kelompok kecil sekalipun, semisal perjalanan bersama. Rasulullah saw, mengharuskan kita untuk mengangkat pemimpin satu di antara kita dalam suatu kelompok perjalanan. Rasulullah bersabda : إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم yang artinya, apabila keluar tiga orang dari kalian, maka angkatlah satu diantaranya sebagai pemimpin. Hadis ini menjadi suatu bukti, bahwa pemimpin sangat dibutuhkan, demi ketarutan dan kemajuan hidup, bahkan dalam suatu perjalan sekalipun.
Setidaknya ada beberapa kisah revolusioner, untuk membuktikan bahwa pemimpin sama dengan perubahan, keduanya setara dalam pengertian maju. Mari kita lihat bagaimana kisah seorang Adolf Hitler yang mampu mengubah kondisi Jerman yang porak poranda akibat perang dunia I menjadi sebuah negara yang sangat kuat pada perang dunia II, dengan beberapa konsep yang dimilikinya, walaupun pada akhirnya Hitler juga menyerah karena kepungan musuh dari Negara sekutu secara bersama. Kita lihat juga, bagaimana kisah seorang Napoleon Bonaparte yang dengan kemampuan kepemimpinannya berhasil mempelopori revolusi di Perancis, bagaimana kisah seorang Umar Bin Abdul Azis yang mampu membalik kondisi perekonomian negaranya yang bobrok dan diwarnai aksi korupsi pejabat, menjadi sebuah Negara yang kaya raya. Dan tentunya bagaimana kisah seorang Muhammad Rasulullah saw yang dengan segala kelebihan kepemimpinannya berhasil mengubah kondisi masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat.
Masih banyak lagi sebenarnya kisah-kisah pembuktian, bahwa seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam proses perubahan. Hal ini disebabkan karena seorang pemimpin ibarat otak dalam tubuh, ketika otak itu salah menginterpretasikan sesuatu, maka akan salah pula anggota badan yang lainnya untuk bergerak sesuai dengan tujuan luhurnya. Begitupula dalam sebuah pergerakan, ketika seorang pemimpin salah dalam berbuat dan bertindak, maka sebuah organisasi pergerakan akan berpeluang untuk salah dalam berbuat dan bertindak. Lebih jauh dari itu kenyataannya, seorang pemimpin tidak hanya dipandang sempit sebagai sebuah otak yang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak. Seorang pemimpin tidak hanya sekedar otak, tetapi juga adalah jiwa yang mengilhami dan merasuki idealisme, prinsip, dan semangat dari sebuah pergerakan.
Sebuah contoh kisah, tidak mungkin seorang Adolf Hitler yang dulunya berjuang untuk menjadi seorang pelukis di Wina, mampu memimpin Jerman untuk bangkit dari keterpurukan hanya dengan modal sebagai Decision Maker. Lebih jauh dari itu, seorang Adolf Hitler ternyata memiliki kemampuan untuk menjiwai dan merasuki Jerman sesuai dengan idealisme, prinsip, dan semangat yang dia miliki, sehingga semua warga bangsa Jerman mau tunduk dan patuh terhadapnya. Dalam masa pemerintahannya, Hitler menetapkan pemerataan ekonomi, meningkatkan lapangan pekerjaan dan sarana-sarana umum serta proyek-proyek umum, yang ini dibuktikan dengan sumbangan pemikirannya dalam dunia otomotif. Hitler mengusulkan untuk membuat kendaraan murah yang dijangkau oleh rakyat Jerman, yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk mobil Volkswagen (VW). Hal ini merupakan contoh, bagaimana seorang pemimpin menginginkan masing-masing rakyatnya mengecap manis dari bangsa tanah tumpah darahnya. Terlepas dari kebengisan dan kekejamannya, dalam sejumlah pertempuran besar.
Keluarbiasaan pemimpin itulah yang mengilhami para nenek moyang bangsa Cina untuk merumuskan strategi-strategi perang yang berfokus kepada “pelumpuhan pemimpin lawan”. Sebab disadari atau tidak, pemimpin merupakan kendali suatu kelompok sosial.
Dari kisah Adolf Hitler dan Napoleon Bonaparte, sebenarnya bisa kita ambil suatu statemen, bahwa pemimpin haruslah pro rakyat, biarlah pemimpin miskin, asal rakyat sejahtera, dimana masing-masing pasang manusia mendapatkan rumah tempat berteduh, masing-masing anak mendapatkan kelayakan pendidikan, kesehatan, dan tidak ada lagi kesenjangan sosial. Hal ini yang dicontohkan Adolf Hitler, bahwa sebengis apapun ia, jiwa kepemimpinannya yang merasuk pada warga Jerman, tetap menyarankan program pemerintahan dengan pemerataan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pemenuhan kebutuhan sandang-pangan yang terjangkau. Begitulah seharusnya pemimpin, peduli terhadap rakyat dan mensejahterakan kehidupan sosial anggota masyarakatnya.
Hal inilah yang disebut oleh panglima perang Cina, Sun Tzu, pada 500 tahun sebelum Masehi, bahwa pemimpin harus menegakkan kearifan, kejujuran, kebaikan, keberanian dan ketelitian. Sebaliknya, lima hal yang harus dihindari oleh pemimpin adalah gegabah, takut, terburu nafsu, gila hormat dan kekhawatiran yang berlebihan. Selanjutnya, kepemimpinan yang benar menurut Lao Tzu, adalah pelayan, bukan mementingkan diri sendiri, bukan memperkaya diri sendiri sehingga benar kata sebuah gurindam “kalau pemimpin hanya mengkayakan keluarga, tentulah ramai akan curiga”.
Seorang pemimpin, akan dapat lebih tumbuh dan berakhir lebih lama dengan menempatkan kesejahteraan masyarakat di atas kesejahteraan pribadi, sebagaimana teladan Rasulullah Saw beberapa tahun silam sebelum lahirnya Sun Tzu. Selain itu, seorang pemimpin juga harus memegang teguh tiga hal yaitu, mengasihi semua mahluk, sederhana dan hemat, rasa persamaan dan sopan. Yang pada akhirnya, pemimpin yang bijak akan mencontohkan perilaku spiritual dan hidup dalam harmoni, bersama nilai-nilai spiritual.
Sementara itu, kita bisa lihat contoh Umar bin Abdul Aziz, seorang Amirul Mukminin. Selang beberapa waktu sejak pengangkatannya sebagai khalifah. Beliau pulang ke rumah dan menangis tersedu-sedu, sehingga ditegurlah oleh isterinya “wahai Amirul Mukminin, apa yang enngkau tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini, dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan meminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, dan aku bimbang aku tidak bisa mempertanggungjawabkan ini sebagai khalifah. Karena aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka kelak adalah Rasulullah saw’’ sejak itulah isteri Umar bin Abdul Aziz berlinang mengalirkan air mata.
Saudara-sudara Sebangsa dan Setanah Air,
Seorang Amirul Mukminin yang sudah dipersiapkan surga baginya, masih begitu takutnya terhadap jabatan yang disandangnya. Hal ini karena Umar bin Abdul Aziz sadar bahwa jabatan khalifah tersebut, adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik, adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Ia tidak lantas menjadi sombong karena menjadi seorang pemimpin, sebab ia tahu, bahwa jabatan tersebut adalah titipan yang harus dijaga dan dijalankan dengan baik. Bagi Umar, apalah artinya sebuah titipan, ia hanya akan diambil kembali oleh sang pemilik, maka karena titipan ini menyangkut kelompok sosial, dan harus dijalankan dengan baik, sehingga ketika diambil titipan jabatan tersebut, Umar tidak meninggalkan masalah, dan ini yang seringkali menjadi persoalan pemimpin bangsa kita, selalu saja di akhir kepemimpinan pemimpin kita melahirkan masalah baru bagi pemimpin berikutnya. Maka dari itu, jabatan khalifah menjadi berat bahkan bagi seorang Amirul Mukminin.
Berikutnya, marilah kita lihat seorang nelson yang mampu membawa Afrika Selatan yang dulunya rasialis, kini menjadi bangsa yang demokratis tanpa adanya konflik antar etnis. Dalam kepemimpinannya ia dikenal sebagai sosok yang tegar, bermusyawarah dan menciptakan kesepakatan serta tidak gampang memerintah, berusaha mendengarkan pendapat orang lain, dan yang terakhir bagi Nelson, berhenti menjabat atau memerintah bukan berarti berhenti memimpin. Jasa-jasa Mandela cukup signifikan untuk membuatnya menjadi presiden seumur hidup, tapi ia lebih memilih untuk menjadi salah satu dari sedikit pemimpin Afrika yang dengan sukarela tidak ingin dipilih lagi ketika pemilu berikutnya menjelang. Bagi Mandela, yang diikuti dari seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia lakukan, tapi juga apa yang tidak ia lakukan.
Menjadi pemimpin, tentu bukan hanya sebatas dipuji dan dipatuhi. Akan tetapi lebih dari itu, yang perlu diingat dalam memimpin, adalah bagaimana membantu perkembangan masyarakatnya. Sehingga kelak mereka mampu mandiri dalam kehidupan sosialnya, tidak lagi selalu bergantung kepada pemimpinnya. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., beliau selalu berlaku adil, berbuat baik, berkomunikasi aktif, hidup sejajar dengan masyarakat dan umatnya, yang kelak dijadikan suri tauladan dalam tatanan sosial yang mapan. Ia meninggalkan akhlakul karimah bagi generasi penerusnya.
Memanglah benar, kita tidak bisa hidup dalam sejarah, tetapi kita bisa belajar dari sejarah. Contoh Adolf Hitler yang berani dan tegas, Napoleon Bonaparte yang cerdas dan akrab, Umar bin Abdul Aziz yang amanah dan penuh pertimbangan, Nelson Mandela yang arif, serta Rasulullah yang mencakup segala sikap kepemimpinan dunia. Mereka adalah contoh positif yang bisa dipraktekkan di dalam kepemimpinan Indonesia yang akan datang. Dari sinilah, Rasulullah mensabdakan sebuah hadits, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tanggung jawabnya. Seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimipinannya. Isteri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Maka kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Saudara-sudara Sebangsa dan Setanah Air,
Di akhir pidato ini, izinkan saya membaca Gurindam tentang kepemimpinan yang menjadi konklusi dari pembahasan sebelumnya.
“Gurindam Pemimpin”
Oleh. Zurinah Hassan
GURINDAM PEMIMPIN
Pemimpin adil bijak bestari
Itu tanda bertuah negeri
Kalau pemimpin penuh amanat
Aman sentosa sekelian rakyat
Kalau pemimpin menunai janji
Tentu rakyat akan memuji
Kalau pemimpin menyalah kuasa
Akibat negeri akan binasa
Kalau pemimpin mengejar emas
Akibat kuasa akan terlepas
Andai menggadai kuasa di tangan
Dilaknat bangsa dan keturunan
Kalau pemimpin kurang waspada
Tidak layak bergelar nakhoda
Andai pemimpin bermewah-mewah
Bertambah marah rakyat di bawah
Pemimpin mungkar tidak berakhlak
Menunggu masa untuk ditolak
Kalau hanya mengkayakan keluarga
Tentulah ramai akan curiga
Sesama pemimpin fitnah memfitnah
Tanda bangsa akan punah
Kalau sudah terbuka pekong
Tidaklah lagi rakyat menyokong
Pemimpin mewah rakyat fakir
Menunggu masa akan tersingkir
Bila menghukum berpandu agama
Tentulah hukuman adil saksama
Pemimpin berganding dengan ulama
Dunia akhirat dipelihara bersama