- Mula Kata
Setelah beberapa hari dari kabar tentang lomba esai ini dari seorang teman lewat e-mail, saya hampir putus asa untuk menulis. Sekian banyak guru sastra, perpustakaan sekolah, serta anggota PWI saya datangi untuk sekedar meminjam buku antologi puisi tunggal Taufiq Ismail berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” yang memuat seratus puisi karya beliau. Akan tetapi tak ada satupun yang memilikinya.
Sebenarnya dulu perpustakaan sanggar kami (SSA) pernah memiliki buku MAJOI, hanya saja raib entah ke mana. Saya terus mencari ke beberapa toko buku besar di kota Sumenep, Pamekasan dan Sampang. Namun tak satupun juga saya melihat judul antologi MAJOI terpampang di rak buku atau etalase.
Saya terkejut bukan main, beberapa pemilik toko buku bahkan tidak mengenal buku MAJOI. Masalahnya sebenarnya bukan karena stok sudah habis karena laku terjual, akan tetapi karena sudah tidak ada lagi yang berminat sama puisi bertema sosial, tutur penjual toko buku suatu tempat, puisi baru diminati apabila bernuansa “cinta” seperti puisi-puisi Kahlil Gibran misalnya. Lanjutnya kepada saya.
Saya begitu getol mencari buku puisi MAJOI bukan tanpa alasan. Karena bagi saya, dari sekian karya Taufiq Ismail hanya ada dua karya beliau yang dijadikan mahkota puisi dalam perjalanan kepenyairannya di negara Indonesia, yakni “Tirani dan Benteng” dan “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” sendiri.
Di tengah kemodernan dan berkembangnya masyarakat Indonesia, ternyata masyarakat Indonesia malah merasa malu untuk menampilkan identitas bangsa Indonesia sebagai tanah airnya yang penuh dengan carut marut kekuasaan, penindasan dan hutang yang begitu besar. Sekian orang akan berucap dengan entengnya, “Ya namanya saja Indonesia, pantas jika begini pantas jika begitu …”
Namun saya lebih malu lagi, ketika MAJOI sudah tidak dihargai oleh masyarakat Indonesia—bahkan guru sastra—sebagai buku pegangan. Karena dalam buku ini terekam sekian banyak sejarah dan realitas kehidupan yang sangat kompleks. Kita patut malu pula, ternyata bangsa kita rabun baca.
Saya baca habis antologi MAJOI dalam sehari dua kali pengulangan secara seksama. Saya baca satu persatu puisi Taufq, judul per judul dengan cermat, dan alangkah kagetnya ketika ternyata sejarah Indonesia dan persoaalan sosial kita menghambur dari MAJOI secara periodik.
Berbicara tentang puisi Taufiq dalam MAJOI, tidak ada satupun dari puisinya yang terkesan “sulit” dan “gelap gulita” sehingga butuh pemahaman yang serius, atau mengambil kata-katanya F. Rahardi dalam esainya tentang puisi Goenawan, bahwa puisi Goenawan sulit dipahami, sebab target pembacanya hanya khalayak dengan tingkat kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman yang kurang-lebih setara dengan penyair.
Berbeda dengan Taufiq yang berpuisi dari protes social, misalnya tentang “trisakti”, tentang “kemewahan yang dipakai semena-mena”, juga tentang “segala macam protes sosial lainnya” yang sasarannya adalah masyarakat Indonesia sacara kaffah. Kita lihat penggalan puisi berikut ini.
12 MEI, 1998
Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidzin Royan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
Tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
Dan simaklah itu sedu sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
Karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru …
Juga,
Dharma Wanita
Karena sayang pada
Ibu-ibu Dharma Wanita
Maka ini saran saya
Bubarkanlah Dharma Wanita
Mari kita buka sebuah rahasia
Bahwa sudah sangat lama
Ibu-ibu deperalat saja
Oleh intuisi bernama negara
…
Inilah realitas sosial yang saat ini sudah banyak dilupakan oleh banyak orang. Jadi bukan salah jika pemuda kita lebih banyak yang gagal karena kasih sayang Ibu tidak membentuk kepribadian mereka.
Taufiq berusaha menyadarkan kita masyarakat Indonesia dengan puisi yang begitu gamblang namun disajikan secara cerdas dan musikal sehingga enak dan sedap didengar. Taufiq Ismail sendiri sebenarnya tidak pernah malu menjadi orang Indonesia, buktinya dia tetap menjadi warga negara Indonesia. Hanya saja dia merasa malu jika Indonesia tetap seperti ini.
Beliau berkata bahwa “puisi mencatatnya semua, menyampaikannya kembali dengan sentuhan indah dan penuh keterharuan.” Sehingga pantaslah jika puisi-puisi beliau tidak terlalu repot dengan sekian banyak metafora gelap.
Segala macam seni pada umumnya bertujuan untuk meneriakkan hati nurani yang terberai, terasingkan dan tiada didengar dengan sungguh. Begitupun antologi puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia—yang selanjutnya disingkat MAJOI—juga memiliki semangat menggebu dalam meneriakkan tangis dan ratapan yang diasingkan oleh kekuasaan dan kelemahan, karena ia sebagai puisi adalah bagian dari seni.
Puisi juga memiliki peranan yang kuat dalam membangun visi kehidupan manusia. Karena disadari atau tidak, puisi selalu berkaitan dengan bagaimana menghadapi masa depan dan menciptakan masa depan, sebagai hasil dari pendalaman terhadap realitas kontemporer untuk merasakan realitas kehidupan dan mengetahui ke mana arah tujuannya.
Potret puisi sebenarnya adalah potret manusia itu sendiri dan alam semesta sebagai lingkungan tempat manusia hidup dan tumbuh sebagai makhluk. Sehingga akan sangat benar jika diambil suatu manifesto bahwa nuansa dan corak puisi akan menyesuaikan diri dengan kehidupan, jiwa dan refleksitas penyair secara subjektif.
Penyair yang hidup dalam kungkungan penjajahan, akan mengabarkan dan meneriakkan puisinya dengan tutur kata yang menggebu atau sebaliknya lemah dan putus asa. Penyair yang hidup pada masa pembangunan, akan bertutur tentang pembangunan, sebagaimana penyair yang berada dalam romantika kehidupan, maka dia akan membuat puisi-puisi romantik.
Sekian banyak kekecewaan dirasakan dan terekam kuat dalam sejarah kehidupan penyair Taufiq Ismail, bahkan sangat jelas berbaku hantam dengan nasib beliau. Dari kehidupan pada akhir-akhir masa penjajahan yang sekian ratus tahun lamanya hingga kediktatoran rezim orde baru. Selain itu pula secara subyektif Taufiq Ismail merasakan kepedihan yang sangat, atas digagalkannya studi ke Amerika Serikat, sehingga berimbas pada pekerjaannya di Institut Pertanian Bogor. Maka dari sekian realita yang menyakitkan itulah Taufiq benci akan segala macam penindasan.
Nah, di sinilah letak keagungan puisi Taufiq Ismail dalam MAJOI, walaupun sebenarnya kita tahu tidak sedikit pula dari antologi ini terdapat puisi yang sebenarnya bisa dicipta oleh siapapun (puisi dengan substansi dan cara tutur yang sama oleh kalangan pemula sekalipun).
Penciptaan Puisi MAJOI ini—saya katakan penciptaan, karena puisi adalah kunfayakun secara subyektif—memiliki keunggulan yang sangat, karena ia tidak terlahir hanya dari imajinasi dan insting semata, sehingga sangat sensibel secara mudah. Puisi MAJOI ibaratnya adalah sebuah bom sejarah yang dipungut dan dipelihara rapi-rapi oleh penyair untuk diledakkan secara mendadak pada saat yang tepat. Dan pada tahun 1998 meledaklah puisi ini untuk sebuah KEBEBASAN!
- B. Konsep berpikir pragmatis Taufiq Ismail dalam MAJOI, mengetuk kerinduan akan kemerdekaan yang benar-benar freedome.
Apabila dibandingkan dengan puisi Tirani dan Benteng yang sudah terbit jauh sebelum MAJOI, kita akan melihat beberapa perbedaan antara keduanya, walaupun kedua antologi puisi tersebut ditulis oleh satu orang, dengan hati, dan otak yang sama.
Dalam Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail bisa dengan mudah memvisualkan segala macam peristiwa beserta adegannya seperti menayangkan ulang sebuah peristiwa sejarah dalam sebuah sinetron, atau film dokumenter tanpa aling-aling.
Akan tetapi dalam antologi MAJOI ini, kita tidak lagi berpapasan dengan imaji visual sejarah yang membahasakan peristiwa. Akan tetapi lebih dari itu, Taufiq mengimajikan puisinya secara konseptual sebagai solusi. Baik konsep ekonomi, moral, perilaku sosial, maupun berketuhanan.
Salah satu penyebab perbedaan antara kedua antologi besar tersebut bisa jadi dikarenakan oleh keterlibatan penyair dengan peristiwa yang ada, sehingga penyair dengan mudah mampu memvisualkan sekian peristiwa dalam “Tirani dan Benteng”. Sedangkan dalam puisi MAJOI, Taufiq Ismail mampu merenung secara sadar akan fenomena hidup untuk menemukan solusi dalam setumpuk masalah yang ada, sehingga timbullah konsep-konsep konstruksi. Kita lihat puisi berikut ini,
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
‘Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
siang tadi’
Dalam puisi di atas, kita bisa melihat kesuksesan Taufiq dalam membangun narasi dan memvisualkan tiga anak kecil yang berduka atas terjadinya bentrok mahasiswa UI yang menentang pemerintah, hingga berujung kematian salah seorang mahasiswa anggota demo.
Akan tetapi lepas dari kesuksesan taufiq pada buku “Tirani dan Benteng”, Taufiq terus melanjutkan kepenyairannya dengan merubah imaji-imaji visualnya menjadi imaji konseptual dalam skema pragmatis.
Ada banyak konsep yang dibentuk oleh Taufiq dalam MAJOI secara pragmatis dan tersusun rapi menjadi anyaman yang indah di mata dan enak disentuh karena kesempurnaan pembuatannya.
Dari sekian banyak konsep Taufiq Ismail, ada tiga tema fokus pembahasan yang secara sadar merupakan realitas kehidupan kita, bangsa Indonesia. Diantara tiga fokus tersebut adalah yang telah disebutkan di atas. Yakni perekonomian, moral dan perilaku bersosial, serta sikap berketuhanan.
Tiga hal tersebut di atas adalah konsep utama dalam MAJOI, sebab ketiga hal itulah yang saat ini sedang melanda negara kepulauan nan hijau Indonesia, jamrud khatulistiwa. Dalam puisi MAJOI, memang tidak semuanya mengabarkan tentang hal ihwal bangsa Indonesia, karena ada juga yang membahas negara lain. Akan tetapi hampir secara utuh Taufiq melukiskan fenomena yang terjadi di Indonesia dalam puisi MAJOI.
Mari kita lihat puisi yang dijadikan hidangan pembuka dalam antologi MAJOI.
12 MEI, 1998
Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidzin Royan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
Tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
Dan simaklah itu sedu sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
Karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
Mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan
Darah arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
Matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
Bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan
1998
Pada tahun 1998, Indonesia mengalami gejolak yang sangat demi mendapatkan kebebasan dari rezim yang penuh dengan penindasan dan pembunuhan massal yang dititahkan oleh prima kuasa almarhum Soeharto. Pada saat itu mahasiswa turun ke jalan sambil meneriakkan orasi dengan kalimat protes yang dituliskan pada hamparan spanduk. Bentrok antara aparat keamanan dan mahasiswa pun terjadi sehingga mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia dan luka-luka.
Maka dengan kesadaran bahwa pengorbanan mahasiswa sangat patut untuk dihargai seperti halnya pahlawan, Taufiq Ismail mengabadikan peristiwa tersebut sebagai judul puisi yang dihidangkan pada permulaan antologi MAJOI.
Secara bebas, peristiwa trisakti yang terjadi pada 12 mei 1988 tersebut bisa dideskripsikan sebagai berikut; bahwa sejak pagi hari, ribuan mahasiswa melaksanakan mimbar bebas di kampus Trisakti. Pukul 12.15 WIB mahasiswa memaksa keluar kampus. Selanjutnya pada jam 15.30 WIB diadakan musyawarah aparat keamanan dengan Purek dan Kakamtibpus Universitas Trisakti untuk membujuk mahasiswa kembali ke kampus.
Pukul 16.45 WIB mahasiswa dan petugas sama-sama mundur pada batas garis Polisi dan pukul 17.15 WIB para mahasiswa menerobos kembali garis Polisi. Terdengar tembakan untuk mendesak mahasiswa mundur dan situasi menjadi tidak terkendali. Aparat keamanan berupaya mengendalikan massa sesuai prosedur dan hukum yang berlaku.
Dengan jatuhnya korban aparat keamanan atas nama pemerintah menyampaikan ikut berbela sungkawa, selain itu aparat keamanan juga membantu mengirim korban ke tempat pemakaman dan menegakkan hukum secara tegas. Korban meninggal dunia 4 orang yaitu Hafidin Roiyan, Hery Hartanto, Hendriawan dan Elang Mulya Lesmana.
Puisi berjudul 12 Mei, 1998 merupakan puisi yang ingin meneriakkan kekesalan dan penyesalan karena masyarakat Indonesia—terutama penyair—merasa terhina oleh tindakan yang dilakukan aparat keamanan. Sebab secara sadar atau tidak, aparat keamanan yang seharusnya menjaga keamanan malah membuat riuh suasana dengan melanggar hukum pasal 103 KUHPM.
Taufiq menunjukkan rasa simpati secara spesifik terhadap empat mahasiswa yang tertembak mati dalam kobaran api semangat juang demi mengharap kemerdekaan bagi suatu bangsa sebagai jalan untuk memberikan kemakmuran bagi rakyatnya, karena itulah fungsi dari kemerdekaan. Merdeka dari rasa takut, merdeka dalam berekspresi dan merdeka dalam suatu apapun selama masih tidak keluar dari lingkaran norma-norma yang ada.
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata/ tertahan di hari keesokan,/telinga kami lekapkan ke tanah kuburan/ dan simaklah itu sedu sedan,
Dengan sangat gamblang tanpa metaforis yang rumit dan jumud, Taufiq menggambarkan duka keluarga dan kerabat empat mahasiswa, yang masing-masing adalah Elang Mulya, Hery Hertanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidzin Royan.
Kemudian penyair mengatakan “Gerimis air mata tertahan di hari keesokan/ telinga kami lekapkan ke tanah kuburan/ dan simaklah itu sedu sedan” pada baris ini penyair mengungkapkan betapa tangis menjadi aroma melati yang menghambur, sebagai pembuktian maka kita diajak oleh penyair untuk melekapkan telinga ke tanah kuburan. Betapa tangis kerabat empat syuhada’ ditahan, dicekal-cekal dalam tenggorokan agar tak meneteskan airmata sebagai pemberangkatan yang ikhlas ke tanah peristirahatan.
Pada bait berikutnya secara skematis Taufiq melanjutkan narasinya dengan kalimat “Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi/ Karena jemu deformasi” yang sacara langsung menyatakan bahwa reformasi diibaratkan dengan sebuah pengembaraan untuk kehidupan yang lebih baik.
Indonesia tidak pernah putus-putus dari penjajahan, sehingga para pemuda dan masyarakat Indonesia merasa muak dan sangat patut untuk mendeklarasikan sebuah reformasi bagi bangsanya sendiri bahwa penjajahan benar-benar telah usai. Dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru/ Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu./ Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu. Taufiq secara sadar ingin mengatakan bahwa seharusnya mahasiswa Indonesia tidak perlu repot-repot turun ke jalan, memikirkan penjajahan ini, karena nenek moyang kita sudah mewariskan kemerdekaan, setelah sekian ratus tahun diperjuangkannya oleh sekian pahlawan yang tiada cukup data statistika menyebutkannya.
Penyair secara sadar pula menyayangkan mahasiswa yang turun ke jalan. Seharusnya mereka lebih konsentrasi dalam menuntut ilmu sehingga menjadi insinyur, ekonom untuk melepaskan tali gantungan IMF dari leher bangsa kita yang penuh hutang. Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu. Akan tetapi dikarenakan keadaan menuntut perlawanan dan perjuangan mahasiswa untuk turut andil, maka kata sayang yang diartikan negatif tadi menjadi kata pujian sebagai pahlawan. Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di/ Trisakti bahkan di seluruh negeri karena kalian berani/ Mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan/ Darah arteri sendiri.
Betapapun, bangsa atau negara bukan hanya sebidang tanah yang di dalamnya tertampung sekian ratus juta orang hidup di permukannya, akan tetapi lebih dari itu negara adalah sesuatu yang memiliki nilai istimewa dan dapat dibanggakan oleh warga negaranya.
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
Matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
Bersembunyi,
Kalimat setengah tiang dalam pengertiannya bisa menjadi “sesuatu yang belum tuntas”, atau bisa jadi “sedih karena musibah”. Namun lepas dari dua asumsi di atas penyair menyadarkan bahwa selama ini bendera kita yang menjadi simbol kemerdekaan tidaklah berkibar dengan baik, yang salah satu penyebabnya adalah kediktatoran dan penindasan serta hukum yang semena-mena, sehingga “merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang/ matahari. Begitupun bendera tidak bisa menjadi simbol kemerdekaan berkibar dengan sumringah, dikarenakan semangat juang yang diumpamakan angin oleh penyair menjadi ciut dan kerdil di bawah penindasan. Bendera sebagai simbol “tak mampu mengibarkan diri karena angin lama/ bersembunyi”.
Bendera adalah simbol penting bagi suatu negara sebagai tanda suatu kehormatan. Taufiq mengambil simbol bendera, sebagai penguat bahwa bangsa yang mendapat julukan jamrud khatulistiwa ini sedang sakit. Sehingga perlu dipertanyakan apakah kesejahteraan warganya juga ikut sakit?.
Setiap keadaan akan melahirkan sekelompok manusia yang berbeda. Semangat juang kembali lahir ketika penindasan menjadi-jadi di negeri ini. Maka dengan ikhlas Taufiq menutup puisinya dengan “Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan/ kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih/ jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan” secara sangat sadar diakui bahwasanya do’a adalah usaha yang dilakukan sekian banyak orang untuk sebuah kesuksesan, sehingga dengan itu tidak perlu lagi ada dendam karena dendam hanya akan membuat bara api baru yang tak pernah usai. Dan terakhir Taufiq menyadari akan butuhnya manusia kepada Tuhan.
Peristiwa trisakti dalam pencapaian reformasi tidak selesai di situ saja, Taufiq melanjutkan kegelisahannya dalam puisi berjudul “takut ’66, takut ’98” yang diletakkan pada posisi kedua setelah “12 mei, 1998”. Dalam peristiwa trisakti terjadi musyawarah antara aparat keamanan dengan Purek dan Kakamtibpus Universitas Trisakti untuk membujuk mahasiswa kembali ke kampus. Hal ini merupakan gambaran atas ketidaksanggupan aparat keamanan menghadapi mahasiswa, sehingga dengan gampangnya oleh Taufiq dilukiskan dalam puisi pendek namun penuh makna sebagai berikut;
TAKUT ’66, TAKUT ’98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
Jadi pada intinya, mahasiswa menjadi sangat menentukan dalam kebijaksanaan pemerintah. Sebab jika kita lihat, kepala negara yang disebut presiden takut pada mahasiswa untuk diturunkan. Puisi ini melogikakan bahwa dosen, dekan, rektor dan menteri berada di bawah kekuasaan presiden karena hukum negara, akan tetapi mahasiswa yang hanya menjadi rakyat sipil dan tidak terikat oleh negara dalam kaitannya dengan tugas, maka dengan sendirinya dia bisa berbuat apapun tanpa takut-takut. Jika seorang presiden (yang memiliki kekuasaan tinggi) sudah takut pada mahasiswa berarti mahasiswalah penguasa tertinggi bersama MPR saat itu.
- Membangun Bangsa Dengan Kesadaran Diri
Secara formal, Taufiq seharusnya membangun bangsa dengan memajukan peternakan Indonesia atau mencari cara penanggulangan penyakit flu burung serta segala macam hal yang berkenaan dengan kehewanan, karena gelar dokter hewan dan ahli peternakan yang disandangnya pastinya menuntut hal itu.
Hanya saja mungkin Taufiq berpikir bahwa hewan adalah hal nomer dua untuk disembuhkan. Karena bisa saja manusia menjadi hewan jika tidak disadarkan dari penyakit serakah dan keangkuhan.
Dalam hal ini, Taufiq menuliskan suatu puisi berjudul “seratus juta” untuk menyadarkan kita bahwa perekenomian Indonesia saat ini telah mengalami kemerosotan yang sangat.
Setelah di muka Taufiq berbicara tentang kerusuhan, dia kembali menyadarkan kita sebagai bangsa Indonesia bahwa ada sekian ratus jiwa warga Indonesia yang miskin dan menjadi pengangguran. Sehingga kita tidak boleh berhenti untuk berbuat.
Taufiq mengajak kita untuk berusaha walaupun sukar adanya agar masyarakat kita tidak lagi mengenyam kemiskinan“Saudaraku/ Kita mesti berbuat sesuatu/ Betapapun sukarnya itu.” Puisi ini terus dilanjutkan pada pokok pemikiran kedua yang ditandai dengan angka romawi dua. “II// dari yang seratus juta itu/ berapa yang putus kerja dan makan setengah kali sehari?/ Aku tak tahu” kita bisa bayangkan, makan setengah kali dalam sehari, dan bukan setengah hari dalam sekali?. Sebenarnya puisi ini mempunyai nilai humor yang tinggi namun menusuk apabila dirasakan oleh hassah kita yang paling bijak. Penyair menyatakan ketidaktahuan dalam puisi tersebut bukan karena dia tidak tahu dari data dan angka statistika, akan tetapi karena memang masih sangat banyak sekali orang yang merasakan nasib seperti itu dan tidak terdata dalam dokumen pemerintah.
Kata “Aku tak tahu” dalam puisi “seratus juta” di atas memiliki multi intrepretasi. Bisa saja artinya sebagaimana yang disebutkan di atas, bisa juga diartikan sebagai ketidakpedulian pemerintah terhadap realita ini dengan sikap acuh tak acuh, padahal “dari yang seratus juta itu/ berapa yang tertawa-tawa sendiri dan berniat bunuh diri?/ Alangkah tak pantasnya pertanyaan itu.”
Kita tahu betapa banyak saat ini bantuan langsung tunai (BLT) yang merenggut nyawa para pengantri hanya untuk sekian ribu yang tak cukup untuk kebutuhan keluarga dalam seminggu. Hal semacam itu sudah jauh dilukiskan oleh Taufiq dalam puisinya“Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri, maka seratus/ kantong pelastik hitam dia bagi-bagi. Isinya masing-masing lima/ genggam beras, empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi/ cepat-jadi. Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak/ televisi, dan masuk koran Jakarja halaman lima pagi-pagi/ sekali.”
Di sini kita harus sadar bahwa memang banyak sekali hal kecil yang dibesar-besarkan dan hal besar disembunyikan untuk kepentingan politik atau popularitas.
Beberapa tahun yang lalu, sekian banyak wanita menginginkan kesetaraan gender dengan aksi demo dan mendeklarasikan keinginannya sebagai sesama makhluk Tuhan. Mungkin wanita sebagai makhluk Tuhan bisa dibenarkan. Akan tetapi kita harus sadar pula bahwa wanita pada kodratnya adalah seorang Ibu yang wajib mengasuh anak demi masa depan mereka, dan bukan untuk ikut berkarir dengan suami sebagai bukti dari kesataraan gender. Mengenai hal ini, Taufiq tuliskan sebagai berikut.
…
Tanyakanlah pada negara, kalau tak percaya
Yang menjajarkan ibu-ibu di layar kaca
Berambut sasak, berseragam membosankan
Dengan make up kadang-kadang berlebihan
Bu, paling penting pendidikan anak di rumah
Mengontrol pergaulan mereka sangat susah
Pada mereka berikan sebanyak-banyak waktu
Itu agenda rumahtangga paling nomor satu
…
Agenda rumah tangga bagi ibu-ibu sebenarnya adalah mengasuh anak dan menjaganya sebagai generasi penerus bangsa, akan tetapi lihatlah sekarang, istri sudah angkat bicara membanggakan diri bahwa penghasilannya lebih besar daripada suaminya dan tak peduli apapun, termasuk anaknya demi popularitas.
Kita disadarkan berkali-kali oleh Taufiq Ismail dalam MAJOI, jadi pertanyaannya sekarang adalah sudah sadarkah kita?.
Bangsa ini sekian lama terkungkung dalam ketidakadilan dan memarjinalkan kaum mayoritas. Ya kaum mayoritas, karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah miskin dari segi perekonomian. Taufiq tidak tanggung-tanggung dalam menggambarkan keadaan ini yang secara estafeta terus berlanjut. Taufiq memberi judul puisinya dengan “Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali”. Dalam puisi ini Taufiq membagi puisinya ke dalam tiga tahap yakni tahun “empat lima, enam-enam dan tahun sembilan delapan” dan sebenarnya terus berlanjut hingga dua ribu delapan saat ini.
Pada setiap akhir dari bagian puisinya dalam judul ini, Taufiq membubuhi kalimat berikut dengan berulang-ulang.
…
Di kawasan kumuh dan pedesaan, rakyat bersangatan susah makan/ begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan/ dan bukankah mereka akan terus kalian atas namakan
…
Membaca puisi ini saya teringat akan ayat Al-Qur’an dalam surah Ar-Rahman dengan pengertian kurang lebih sebagai berikut, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah akan engkau dustakan?” cara yang dipakai Taufiq dalam puisi ini adalah menggunakan istifham yang berfungsi sebagai taukid, jadi memang tidak harus menggunakan tanda tanya di akhir kata walaupun sebenarnya bernada tanya, karena kalimat tersebut bukanlah bentuk dari dua macam pertanyaan yang ada, yakni retoris dan setara dengan kalimat perintah. Akan tetapi kalimat dalam puisi tersebut mendesak agar yang bersangkutan menjawab dengan ia dan mengakui dengan sangat karena sekian bukti sudah terpampang.
Taufiq dalam perjalanan kepenyairannya selalu berkutat dengan realitas sosial dan sejarah, ia hidup dalam orde yang datang dan pergi dengan generasi yang sama. Kita renungkan puisi berikut ini;
…
Seseorang dianggap tak bersalah, sampai dia dibuktikan hukum bersalah. Di
negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah. Bagaimana
membuktikan bersalah, kalau kulit tak dapat dijamah. Menyentuh tak
bisa dari jauh, memegang tak dapat dari dekat,
Karena ilmu kiat, orde datang dan orde berangkat, dia akan tetap saja selamat,
…
Vonis bersalah bagi hukum Indonesia adalah jika memang terbukti salah adalah sesuatu yang benar, namun saat ini praktek penyelesaian hukum terkadang disesuaikan dengan licin tidaknya jalan yang ada dengan uang. Orang beruang banyak maka akan dengan sangat mudah lepas dari vonis apapun. Jika seperti ini “Tidak Malukah Kita sebagai masyarakat Indonesia?”.
Demi menghapus rasa ciut dan minder dalam hati karena rasa malu yang tinggi, puisi Taufiq menjawab dengan cabang olah raga bulu tangkis, yang dalam hal ini Indonesia telah diharumkan namanya oleh sekian pemain. Diantaranya adalah Susi Susanti, Taufik Hidayat dan pemain bulu tangkis lainnya. Dengan singkat Taufiq katakan “Bulutangkis telah lama menggetarkan hatiku” dan “satu-satunya soal yang aku ngomong bisa agak sombong dengan novelis/ Inggeris, redaktur India, penyaiur Brazilia dan dokter hewan Belanda/ adalah tentang badminton,.
Indonesia sangatlah terkenal dalam hal permainan badminton dalam kejuaraan Internasional, dan inilah satu-satunya kebanggaan Indonesia selain jamrud khatulistiwa yang tidak dimanfaatkan dengan baik atau dipergunakan dengan semena-mena. Kita tahu itu.
- Narasi Akhlaq Yang Memerlukan Konstruksi
Akhlak merupakan investasi Negara kita, setelah sebelumnya diakui sebagai negara yang sopan nan santun, walaupun kenyataannya sudah tidak begitu adanya. Sebagai sastrawan Taufiq Ismail sudah berkali-kali berkeliling Indonesia, mendatangi sekolah-sekolah dan berbicara tentang pendidikan serta moral lewat SBSB.
Moral sangatlah penting peranannya bagi bangsa kita, kita simak puisi berikut;
KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Walaupun dalam puisi ini puisi menggunakan kata aku sebagi subjek, akan tetapi beliau sebenarnya ingin mewakilkan dirinya dengan sekian banyak orang yang memiliki nasib seperti itu. Dan mendeskripsikan carut-marut Indonesia.
Begitupun dalam puisinya yang menjadi judul antologi ini, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”
…
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Hilangnya akhlak menjadi suatu kehinaan bagi Taufiq dan warga Indonesia pada umumnya, malu karena hukum sudah tak tegak dan tidak ada lagi yang memihak kebenaran kecuali sedikit. Puisi ini dilanjutkan juga dengan bait.,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam
kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di
tumpukan jerami selepas menuai padi.
Budi pekerti mungkin ada tercatat sebagai sejarah, namun setelah kemerdekaan didapat yang diumpamakan sebagai panen padi oleh Taufiq kini seakan mencari jarum dalam jerami. Sangat sulit mencari budi pekerti di Indonesia, dan inilah yang membat malu orang Indonesia.
Moral tidak hanya berkutat pada tata krama bertamu atau berbicara, akan tetapi juga pada suatu kehidupan rumah tangga sekalipun moral haruslah ada dan berperan penting atas keromantisan dan kesakinahan keluarga tersebut.
Moral dalam berkeluarga bisa saja berupa saling mengerti dan membagi tugas secara baik seperti halnya di atas tentang tugas wanita sebagai ibu. Kita baca puisi Taufiq berikutnya:
SURAT MOBIL PAMAN SI TONI
…
Karena ketagihan mobil begini gila
Kamu tahu Pakde sampai cerai dengan Budemu sudah lama
Mungkin karena kami tidak punya anak juga
Kamu tahu Pakde tersinggung betul pada suatu ketika
Budemu bertanya tentang halal-haramnya rezeki dan harta
Bukan saja bertanya malah menggugat pula
Budemu ‘kan tahu suaminya Pejuang Empat Lima
Dan kalau aku berbisnis ketika boom minyak dunia
Mengatur tanker, gas bumi, konsesi hutan dan tambang lainnya
Wajarlah kalau Pakdemu jadi sangat kaya
Wajar ‘kan Ton, wajar saja di dunia kesatu kedua atau ketiga
Argumentasi logis ini Budemu itu tidak bisa terima
Sampai-sampai titik airmatanya
Ya itulah, sehingga ketika ultimatum ditembakkan
Pilih koleksi mobil atau pilih dia
Kamu sudah tahu putusan Pakde pada akhirnya
…
Alangkah polosnya dalam puisi ini seorang Pakde yang digambarkan Taufiq bercerita kepada Toni agar menjadi bahan cerminan, bahwa dalam rumah tangga perlu juga adanya moral. Seorang suami perlunya memberikan nafkah yang halal (ghidza’ al-halal). Karena keserakahan pula Paman Toni akhirnya bercerai dengan sang istri yang begitu kuat ingin mempertahankan norma.
Tidak hanya itu, dalam masalah pengabdian, Taufiq Ismail juga punya norma tersendiri yang dicontohkan oleh seorang temannya M. Kasim Arifin dalam puisinya “Syair Untuk Seorang Petani Dari Waimital, Pulau Seram, Yang Pada Hari Ini Pulang Ke Almamaternya” setelah menerima gelar insinyur pertanian. Kasim yang pada waktu itu merasa menerima banyak ilmu dari kuliahnya, langsung mempraktekkan ilmunya sebagai pengabdian tanpa rasa gengsi.
Mengenai nasehat moral, kita lihat pula pada puisi berjudul “Lonceng Tinju” yang secara garis besar pesan yang disampaikan berada pada bait kedua sebagai berikut:
…
Setiap lonceng berkleneng
Dan tinju mulai berlayangan
Meremuk kepala lawan
Terkilas dalam ingatan
Nenekku dulu berkata
“Jangan kamu mengadu ayam”
Dan bila aku menuntut ilmu
Di dokter hewan
Guruku mensihatkan
“Jangan kamu mengadu hewan”
…
Kalau nenek penyair dalam puisi di atas menasehati agar tidak mengadu ayam atau gurunya melarang mengadu hewan, apakah pantas apabila adu manusia pada ring tinju dijadikan ajang lomba favorit abad ini. Masih pantaskah dengan normal susila kita?.
- E. Jalan Lurus Menuju Taubat Demi Bangsa Nan Hijau Jamrud Khatulistiwa
Saat ini hanya do’a yang bisa membantu bangsa Indonesia agar bisa terangkat dari segala “rasa malu” kita selama ini. Taufiq akhirnya memasrahkan semuanya kapada sang Prima Kausa Allah ta’ala dengan do’a,
Do’a
Tuhan kami
Telah usai nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangn kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
…
Taufiq berdo’a sambil bertanya akankah Indonesia bisa terobati? Serta terangkat dari rasa malu yang sangat? Semoga harapan Taufiq Ismail sebagai penyair diaminkan oleh Tuhan agar puisinya tidak membodohi pembaca dengan eufoni yang begitu khas menarasikan realitas sosial.
Indonesia telah lama dirindukan!
* Dimuat dalam buku; Tauiq Ismail di Mata Mahasiswa (Horison, 2008)
Like this:
Be the first to like this post.