Sebuah Kehangatan Cinta

Perjalanan yang melelahkan. Dari bukit ke bukit lain, jalan menanjak, terjal penuh batu. Selepas naik, sandal copot. Aku mengiba, beginikah mereka melewati hari?. Lebih ngeri dari “laskar pelangi” loh jalannya.

Sepulang ke rumah, aku hanya bisa melepaskan lelah dan berharap seorang bidadari cantik, duduk di sampingku. Memijat bahuku yang sudah terasa kaku. Kram mungkin di hantam jalan menanjak, dan angin yang gusar di pematang sawah. O tidak, ternyata bidadariku tidak sedang menyambutku. Ia asyik di kamar mandi, mencuci baju dan seprei kasur sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.

“Capek ya sayang?” ad’ nggak menjawab, hanya tangannya yang sudah dibersihkan pake’ air keran, yang kemudian meraih tanganku untuk dicium. Ta’dzim. Sejenak aku berpikir, o ow! Ternyata aku salah, bisa-bisanya aku bertanya perihal capek. Seandainya ad’ mau menjawab, pasti jawabannya adalah “Ya capeklah, Mas! Sudah tahu masih nanya!” sambil mendelik. Tapi, iiih ad’ mang solehah banget, dia hanya diam nggak pengin nambah bebanku.

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur sekuat mungkin sebagai ungkapan kecewa, nggak akan mendapat pijitan lembut bidadari, tapi kok nggak mental-mental. Ternyata tubuhku terlalu ringkih, untuk berharap hal itu.

Aku mengambil selembar selimut berwarna ungu, dengan bunga-bunga indah di sisi sampingnya. Aku tidur dengan selimut itu, selimut dengan warna yang begitu ad’ sukai.

“Mas….” Baru saja aku mau jadi kepompong (ngumpet di dalam selimut), suara yang nggak asing tiba-tiba menyapaku. Aku sengaja nggak segera merespon, berharap ada ungkapan lain keluar darinya. “Kenapa mas berselimut kayak gini sih? Mas sakit?” tambahnya lagi. Belum, belum sempurna masih ungkapan cintanya. Aku menunggunya, dan ternyata hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang bergetar dari bibirnya yang delima.

Aku menyerah, aku buka pelan-pelan selimut dengan action sakit. “Mas capek sayang,” ucapku kemudian, dan berusaha meraih keningnya. Tentu untuk keberkahan kami berdua, dengan sedikit kecupan cinta dan bacaan doa.

“Lo, Mas kok panas begini sih kulitnya? Matanya juga merah. Mas sakit ya?” Ad’ku bingung merasakan kulitku yang sedikit hangat, padahal gara-gara selimut. Mata yang merah juga karena berusaha tidur. Dasar istriku, dia sering tidak sempat berpikir logis jika sudah berada di dekatku. Hohoho kepedean!.

Aku mendekati ad’. “Ad’, belikan mas Tolak Angin ya sayang!” aku sedikit merengek meraih selembar tangannya yang sedikit kaku karena terkena sabun cuci.

Ad’ segera berangkat, tentu dengan raut muka kesedihan, “jangan lupa niqobnya!”

Sementara ad’ membeli obat, aku sempatkan tidur sebentar. Aku tidak enak juga meminta ad’ untuk memijiti bahuku dan membelaiku mesra. Dia sudah banyak mengurusi cucian. Tentunya sangat melelahkan, bahkan lebih melelahkan dari diriku.

Beberapa menit berlalu, ad’ hanya datang dengan seraut muka yang sangat lucu. Dahi mengkerut, bibir manyun, dan mata berkaca-kaca. Karenanya di rumah kami banyak kacanya, heheh. “Nggak ada, Mas. Tolak Anginnya habis. Maafin ad’ ya Mas…” Ad’ merapat ke sampingku, memijiti kakiku.

“Ya sudah sayang kalau nggak ada. Ntar lagi mas juga sembuh kok!” ucapku menenangkan.

“Tapi mas biasanya kan memang minum itu?”

“Ada yang bisa lebih menghangatkan mas dari sekedar tolak angin sayang!” Kuraih tangannya, ad’ku bingung. Cincin pernikahan di jarinya, kumainkan seromantis banget. Cie prikitiw!. “Selimuti mas sayang!”

“Kan Mas memang sudah selimutan sayang?” wadawwwwwwww, ad’ g ngertiiii. Harus make’ bahasa apa lagi sih sayang.

“Zammiluni sayang! Itu bisa lebih hangat dari sekedar jamu. Ad’ ingat bukan, bagaimana dulu Khodijah memeluk Nabi saat menggigil? Mas rasa itu pelajaran sayang. Dan sekarang aku rasakan aroma tubuhmu yang sangat sederhana!” kami larut dalam keberkahan cinta.

2 comments Januari 25, 2010

Prita dan Kecemburuan Itu

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba wajah ad’ di layar komputer keliatan kusut banget, nggak seperti biasanya. Apa kurang setrikanya ya? Ad’ nggak semangat banget bertatap muka di webcame.

Aku mencoba menetralisir keadaan dengan sedikit bernyanyi lagu “Sherina”, tentu dengan notasi yang tidak aku mengerti benar-salahnya. Yang aku tahu, aku bernyanyi–Akankah sama jadinya, bila bukan kamu–. Biasa, ngikutin prinsip iklan kopi. Nggak semua orang bisa bermain musik—termasuk bernyanyi.

Tapi aku juga nggak bisa bikin kopi enak. Hihihi.

“Mas….” Alhamdulillah, muncul juga suara ad’ku ini. Suaranya kayak perkutut di pagi hari, renyah. Lo kok?

“Iya Sayang?” selembut mungkin aku merespon rengekan ad’. Tentu karena aku tahu, ad’ adalah wanita yang ingin hidup dengan kelembutan hati suaminya. Berrarti aku lembut dong? Cangkring gini dibilang lembut? Waw!

“Boleh nggak ad’ nanya sesuatu?” tanyanya lagi, sambil terus mempertahankan ekspresi wajah yang lama-kelamaan aku suka juga. Emang sih, bagaimanapun istriku tetap yang tercantik dan terindah. Waduh aku kok lebai gini sih.

“Ya boleh lah, Yang. Emang mau nanya apa?”

“Mbak Prita itu cantik ya, Mas?”

“Ya cantik lah, dia didzolimi oleh rumah sakit.”

“Mas suka?”

“Suka!” aku menjawab hampir teriak. Maksudku, aku suka dengan kesabaran bu Prita. Tapi kok dengan jawabanku itu, ad’ malah meneteskan air mata. Tes tes tes.

“Berarti benar Mas suka sama Prita? Orang mana sih Mas?”

“Orang Serpong, Tangerang,” jawabku sekenanya. Aku sambil lalu membuka berita tentang Coin For Prita.

“Tapi Mas masih sayang ad’ kan?”

“Hemmm….” Aku mengiyakan dengan isyarat sesingkat mungkin. Tapi ngomong-ngomong kok ad’ nanya gitu ya, memang ada apa? Aku baru kepikiran, kenapa ad’ nanya-nanya kayak orang yang udah mau dipoligami gitu.

“Mas g akan ninggalin ad’ gara-gara Prita kan, Yang? Ad’ cemburu yang, pas mas nulis tentang Prita dengan segitu detailnya. Kayak mas kenal betul dan suka sama Prita.”

“Astaghfirullah! Ya nggak lah Yang. Prita itu udah punya suami kali, udah punya dua anak juga. Mas peduli, karena Prita menjadi suara masyarakat yang ingin dibungkam. Coba deh buka alama ini http://www.gedubrak.com/2009/06/03/isi-email-dari-ibu-prita-mulyasari-yang-menghebohkan/. ad’ sih di Mesir cuma buka foto Pyramid dan Fir’aun. Hehehehe. Lama-kelamaan ad’ mirip Sungai Nil lo….” Hohoho. Kok nggak nyambung ya. Muka ad’ merah banget, kayak kepiting rebus.

2 comments Desember 12, 2009

PEMIMPIN UNTUK INDONESIA SEJAHTERA (Sebuah Pidato)

Dengan rahmat Allah dan karunia rizki Tuhan, Alhamdulillah kita masih bisa bersama-sama menikmati jamuan indah zamrud khatulistiwa, Indonesia. Bangsa yang kaya dan berlimpah manusia. Terhampar luas dan tumbuh subur berbagai jenis tumbuhan, berbagai jenis kayu dan pepohonan, sehingga untuk menjadi bangsa yang maju, Indonesia sangatlah berpeluang.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya hormati,

Dengan rahmat Allah dan karunia rizki Tuhan, Alhamdulillah kita masih bisa bersama-sama menikmati jamuan indah zamrud khatulistiwa, Indonesia. Bangsa yang kaya dan berlimpah manusia. Terhampar luas dan tumbuh subur berbagai jenis tumbuhan, berbagai jenis kayu dan pepohonan, sehingga untuk menjadi bangsa yang maju, Indonesia sangatlah berpeluang.

Enam puluh tiga tahun lamanya, Indonesia dipercaya seluruh dunia, sebagai Bangsa dan Negara yang berdaulat, pertumbuhan laju revolusi melahirkan reformasi sebagai bukti kedaulatan, dan reformasi melahirkan demokrasi yang semakin mapan. Namun pertanyaannya, kenapa sampai saat ini kita masih berada dalam rata-rata kemiskinan. Masyarakat yang katanya kaya-raya, masih menjadi budak di negeri sendiri, kenyamanan dan kesejahteraan masih semacam fatamorgana yang diangankan.

Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air,
Kemiskinan dan ketidaknyamanan merupakan suatu indikasi bahwa stratifikasi sosial kita berada pada lapisan yang “primitif” karena tidak menghasilkan pertumbuhan yang positif. Kemiskinan kita sampai saat ini masih berada pada posisi yang sangat kritis. Bisa kita bayangkan, betapa bangsa yang memiliki jumlah penduduk relatif banyak, dengan pencapaian angka 230 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,33 persen pertahun, masih mengharapkan tenaga ahli luar negeri demi membantu suksesi laju pertumbuhan bangsa ini. Begitu pun, bangsa yang kaya akan sumber daya alam, masih saja penduduknya lari ke negeri jiran untuk mengais rizki yang hanya cukup untuk dimakan.

Lantas apa yang salah dengan Indonesia? Ini adalah pertanyaan singkat yang akan kita coba bahas dalam orasi tentang pemimpin yang berakhlakul karimah. Bangsa ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bangsa maju lainnya, bangsa ini memiliki sumber daya waktu, alam, dan manusia yang memadai. Namun sayangnya kita masih belum mendapatkan seorang pemimpin transformatif yang membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Walaupun diakui, memanglah dalam diri kita masih dipenuhi oleh dosa warisan yang ditinggalkan oleh penjajah, sehingga kita memiliki mental yang lemah. Lantas pertanyaannya, apakah kita sudi menjadi bangsa yang terbelakang atau hanya sebatas Negara berkembang?

Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air,
Menjadi konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial, untuk hidup berkelompok, hidup berjamaah. Sebab, makhluk yang lebih rendah tingkatannya dari manusia saja, hidup dalam ikatan berkelompok. Kita lihat sajalah umpanya tata cara hidup gajah, kuda liar dan lain sebagainya, mereka hidup dengan rapi dan teratur. Tata cara hidup lebah, lengkap dengan rajanya, hulu balang-hulu balang, prajurit-prajurit, serta karyawan-karyawannya. Sungguh suatu tata cara hidup yang seragam dan harmonis. Potensi manusia sebagai makhluk sosial, hanya bisa berkembang maju, bila ia hidup dalam ikatan satu sama rata dalam kelompok jama’ah yang teratur. Dan bisa dipastikan, tidak akan ada jamaah yang beraturan tanpa adanya kepemimpinan. Bahkan dalam suatu kelompok kecil sekalipun, semisal perjalanan bersama. Rasulullah saw, mengharuskan kita untuk mengangkat pemimpin satu di antara kita dalam suatu kelompok perjalanan. Rasulullah bersabda : إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم yang artinya, apabila keluar tiga orang dari kalian, maka angkatlah satu diantaranya sebagai pemimpin. Hadis ini menjadi suatu bukti, bahwa pemimpin sangat dibutuhkan, demi ketarutan dan kemajuan hidup, bahkan dalam suatu perjalan sekalipun.

Setidaknya ada beberapa kisah revolusioner, untuk membuktikan bahwa pemimpin sama dengan perubahan, keduanya setara dalam pengertian maju. Mari kita lihat bagaimana kisah seorang Adolf Hitler yang mampu mengubah kondisi Jerman yang porak poranda akibat perang dunia I menjadi sebuah negara yang sangat kuat pada perang dunia II, dengan beberapa konsep yang dimilikinya, walaupun pada akhirnya Hitler juga menyerah karena kepungan musuh dari Negara sekutu secara bersama. Kita lihat juga, bagaimana kisah seorang Napoleon Bonaparte yang dengan kemampuan kepemimpinannya berhasil mempelopori revolusi di Perancis, bagaimana kisah seorang Umar Bin Abdul Azis yang mampu membalik kondisi perekonomian negaranya yang bobrok dan diwarnai aksi korupsi pejabat, menjadi sebuah Negara yang kaya raya. Dan tentunya bagaimana kisah seorang Muhammad Rasulullah saw yang dengan segala kelebihan kepemimpinannya berhasil mengubah kondisi masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat.

Masih banyak lagi sebenarnya kisah-kisah pembuktian, bahwa seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam proses perubahan. Hal ini disebabkan karena seorang pemimpin ibarat otak dalam tubuh, ketika otak itu salah menginterpretasikan sesuatu, maka akan salah pula anggota badan yang lainnya untuk bergerak sesuai dengan tujuan luhurnya. Begitupula dalam sebuah pergerakan, ketika seorang pemimpin salah dalam berbuat dan bertindak, maka sebuah organisasi pergerakan akan berpeluang untuk salah dalam berbuat dan bertindak. Lebih jauh dari itu kenyataannya, seorang pemimpin tidak hanya dipandang sempit sebagai sebuah otak yang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak. Seorang pemimpin tidak hanya sekedar otak, tetapi juga adalah jiwa yang mengilhami dan merasuki idealisme, prinsip, dan semangat dari sebuah pergerakan.

Sebuah contoh kisah, tidak mungkin seorang Adolf Hitler yang dulunya berjuang untuk menjadi seorang pelukis di Wina, mampu memimpin Jerman untuk bangkit dari keterpurukan hanya dengan modal sebagai Decision Maker. Lebih jauh dari itu, seorang Adolf Hitler ternyata memiliki kemampuan untuk menjiwai dan merasuki Jerman sesuai dengan idealisme, prinsip, dan semangat yang dia miliki, sehingga semua warga bangsa Jerman mau tunduk dan patuh terhadapnya. Dalam masa pemerintahannya, Hitler menetapkan pemerataan ekonomi, meningkatkan lapangan pekerjaan dan sarana-sarana umum serta proyek-proyek umum, yang ini dibuktikan dengan sumbangan pemikirannya dalam dunia otomotif. Hitler mengusulkan untuk membuat kendaraan murah yang dijangkau oleh rakyat Jerman, yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk mobil Volkswagen (VW). Hal ini merupakan contoh, bagaimana seorang pemimpin menginginkan masing-masing rakyatnya mengecap manis dari bangsa tanah tumpah darahnya. Terlepas dari kebengisan dan kekejamannya, dalam sejumlah pertempuran besar.

Keluarbiasaan pemimpin itulah yang mengilhami para nenek moyang bangsa Cina untuk merumuskan strategi-strategi perang yang berfokus kepada “pelumpuhan pemimpin lawan”. Sebab disadari atau tidak, pemimpin merupakan kendali suatu kelompok sosial.

Dari kisah Adolf Hitler dan Napoleon Bonaparte, sebenarnya bisa kita ambil suatu statemen, bahwa pemimpin haruslah pro rakyat, biarlah pemimpin miskin, asal rakyat sejahtera, dimana masing-masing pasang manusia mendapatkan rumah tempat berteduh, masing-masing anak mendapatkan kelayakan pendidikan, kesehatan, dan tidak ada lagi kesenjangan sosial. Hal ini yang dicontohkan Adolf Hitler, bahwa sebengis apapun ia, jiwa kepemimpinannya yang merasuk pada warga Jerman, tetap menyarankan program pemerintahan dengan pemerataan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pemenuhan kebutuhan sandang-pangan yang terjangkau. Begitulah seharusnya pemimpin, peduli terhadap rakyat dan mensejahterakan kehidupan sosial anggota masyarakatnya.

Hal inilah yang disebut oleh panglima perang Cina, Sun Tzu, pada 500 tahun sebelum Masehi, bahwa pemimpin harus menegakkan kearifan, kejujuran, kebaikan, keberanian dan ketelitian. Sebaliknya, lima hal yang harus dihindari oleh pemimpin adalah gegabah, takut, terburu nafsu, gila hormat dan kekhawatiran yang berlebihan. Selanjutnya, kepemimpinan yang benar menurut Lao Tzu, adalah pelayan, bukan mementingkan diri sendiri, bukan memperkaya diri sendiri sehingga benar kata sebuah gurindam “kalau pemimpin hanya mengkayakan keluarga, tentulah ramai akan curiga”.

Seorang pemimpin, akan dapat lebih tumbuh dan berakhir lebih lama dengan menempatkan kesejahteraan masyarakat di atas kesejahteraan pribadi, sebagaimana teladan Rasulullah Saw beberapa tahun silam sebelum lahirnya Sun Tzu. Selain itu, seorang pemimpin juga harus memegang teguh tiga hal yaitu, mengasihi semua mahluk, sederhana dan hemat, rasa persamaan dan sopan. Yang pada akhirnya, pemimpin yang bijak akan mencontohkan perilaku spiritual dan hidup dalam harmoni, bersama nilai-nilai spiritual.

Sementara itu, kita bisa lihat contoh Umar bin Abdul Aziz, seorang Amirul Mukminin. Selang beberapa waktu sejak pengangkatannya sebagai khalifah. Beliau pulang ke rumah dan menangis tersedu-sedu, sehingga ditegurlah oleh isterinya “wahai Amirul Mukminin, apa yang enngkau tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini, dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan meminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, dan aku bimbang aku tidak bisa mempertanggungjawabkan ini sebagai khalifah. Karena aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka kelak adalah Rasulullah saw’’ sejak itulah isteri Umar bin Abdul Aziz berlinang mengalirkan air mata.

Saudara-sudara Sebangsa dan Setanah Air,
Seorang Amirul Mukminin yang sudah dipersiapkan surga baginya, masih begitu takutnya terhadap jabatan yang disandangnya. Hal ini karena Umar bin Abdul Aziz sadar bahwa jabatan khalifah tersebut, adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik, adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Ia tidak lantas menjadi sombong karena menjadi seorang pemimpin, sebab ia tahu, bahwa jabatan tersebut adalah titipan yang harus dijaga dan dijalankan dengan baik. Bagi Umar, apalah artinya sebuah titipan, ia hanya akan diambil kembali oleh sang pemilik, maka karena titipan ini menyangkut kelompok sosial, dan harus dijalankan dengan baik, sehingga ketika diambil titipan jabatan tersebut, Umar tidak meninggalkan masalah, dan ini yang seringkali menjadi persoalan pemimpin bangsa kita, selalu saja di akhir kepemimpinan pemimpin kita melahirkan masalah baru bagi pemimpin berikutnya. Maka dari itu, jabatan khalifah menjadi berat bahkan bagi seorang Amirul Mukminin.

Berikutnya, marilah kita lihat seorang nelson yang mampu membawa Afrika Selatan yang dulunya rasialis, kini menjadi bangsa yang demokratis tanpa adanya konflik antar etnis. Dalam kepemimpinannya ia dikenal sebagai sosok yang tegar, bermusyawarah dan menciptakan kesepakatan serta tidak gampang memerintah, berusaha mendengarkan pendapat orang lain, dan yang terakhir bagi Nelson, berhenti menjabat atau memerintah bukan berarti berhenti memimpin. Jasa-jasa Mandela cukup signifikan untuk membuatnya menjadi presiden seumur hidup, tapi ia lebih memilih untuk menjadi salah satu dari sedikit pemimpin Afrika yang dengan sukarela tidak ingin dipilih lagi ketika pemilu berikutnya menjelang. Bagi Mandela, yang diikuti dari seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia lakukan, tapi juga apa yang tidak ia lakukan.

Menjadi pemimpin, tentu bukan hanya sebatas dipuji dan dipatuhi. Akan tetapi lebih dari itu, yang perlu diingat dalam memimpin, adalah bagaimana membantu perkembangan masyarakatnya. Sehingga kelak mereka mampu mandiri dalam kehidupan sosialnya, tidak lagi selalu bergantung kepada pemimpinnya. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., beliau selalu berlaku adil, berbuat baik, berkomunikasi aktif, hidup sejajar dengan masyarakat dan umatnya, yang kelak dijadikan suri tauladan dalam tatanan sosial yang mapan. Ia meninggalkan akhlakul karimah bagi generasi penerusnya.

Memanglah benar, kita tidak bisa hidup dalam sejarah, tetapi kita bisa belajar dari sejarah. Contoh Adolf Hitler yang berani dan tegas, Napoleon Bonaparte yang cerdas dan akrab, Umar bin Abdul Aziz yang amanah dan penuh pertimbangan, Nelson Mandela yang arif, serta Rasulullah yang mencakup segala sikap kepemimpinan dunia. Mereka adalah contoh positif yang bisa dipraktekkan di dalam kepemimpinan Indonesia yang akan datang. Dari sinilah, Rasulullah mensabdakan sebuah hadits, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tanggung jawabnya. Seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimipinannya. Isteri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pembantu adalah pemimpin harta majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Maka kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya.

Saudara-sudara Sebangsa dan Setanah Air,
Di akhir pidato ini, izinkan saya membaca Gurindam tentang kepemimpinan yang menjadi konklusi dari pembahasan sebelumnya.
“Gurindam Pemimpin”
Oleh. Zurinah Hassan


GURINDAM PEMIMPIN

Pemimpin adil bijak bestari
Itu tanda bertuah negeri

Kalau pemimpin penuh amanat
Aman sentosa sekelian rakyat

Kalau pemimpin menunai janji
Tentu rakyat akan memuji

Kalau pemimpin menyalah kuasa
Akibat negeri akan binasa

Kalau pemimpin mengejar emas
Akibat kuasa akan terlepas

Andai menggadai kuasa di tangan
Dilaknat bangsa dan keturunan

Kalau pemimpin kurang waspada
Tidak layak bergelar nakhoda

Andai pemimpin bermewah-mewah
Bertambah marah rakyat di bawah

Pemimpin mungkar tidak berakhlak
Menunggu masa untuk ditolak

Kalau hanya mengkayakan keluarga
Tentulah ramai akan curiga

Sesama pemimpin fitnah memfitnah
Tanda bangsa akan punah

Kalau sudah terbuka pekong
Tidaklah lagi rakyat menyokong

Pemimpin mewah rakyat fakir
Menunggu masa akan tersingkir

Bila menghukum berpandu agama
Tentulah hukuman adil saksama

Pemimpin berganding dengan ulama
Dunia akhirat dipelihara bersama

Add comment Desember 12, 2009

Belajar dari Jhermudi dan Nasionalisme Etnis; Sebuah Cerminan Hidup Pemimpin Masa Depan

Membayangkan Masalembu adalah seperti melihat sebuah pulau dengan pasir putih, laut yang hijau dan pesona ikan sekawanan berjumpalitan.

Datanglah ke Masalembu tahun 70-an, sebuah pulau kecil yang secara ekologis-geografis, terletak pada posisi lintang : 5° 31′ sampai dengan 5° 35′ LS serta penduduk yang beraneka suku dan kebudayaan. Pulau yang eksotis untuk ukuran pariwisata. Membayangkan Masalembu adalah seperti melihat sebuah pulau dengan pasir putih, laut yang hijau dan pesona ikan sekawanan berjumpalitan.

Pulau Masalembu seringkali dikenal masyarakat luas sebagai pulau burung Jambul Kuning, sebuah satwa yang dikenal indah dengan jambul berwarna kuning di kepalanya.
Selebihnya, Masalembu adalah pulau yang memiliki satwa laut yang begitu banyak. Bahkan pada masanya, Masalembu dikenal sebagai pensuplai ikan terbesar ke daerah Banjarmasin, Sampit, Muncar dan sekitarnya.

Keadaan seperti ini sangat beralasan, karena Masalembu memang mempunyai daya tampung yang sangat tinggi terhadap struktur biodiversitas habitat, seperti terumbu karang, mangrove, pesisir litoral, rumput laut (algae), dan daerah umbalan (upwelling area) yang menjadi penopang sumberdaya ikan dan non-ikan dengan nilai ekonomis yang tinggi.

Hasil pertanian di daerah Masalembu tak kalah menarik, beraneka tumbuhan hidup dengan subur, kecuali padi.

Untuk sampai ke Masalembu, cukup menyewa sebuah perahu besar atau perahu pribadi dan berlayarlah ke perairan Masalembu pada bulan apapun kecuali bulan Agustus atau musim gelombang, karena jika berlayar pada bulan tersebut, bisa sangat beralasan jika kapal yang ditumpangi menjadi karam di lautan seperti Thampomas II yang kapal bekas itu.

Pulau Masalembu tahun 70-an adalah sekumpulan suku yang saling berdampingan, hidup berkelompok bagian, namun penuh kesahajaan satu sama lain. Suku bugis, hidup dengan tenang di dalam rumah panggung yang mereka bangun. Suku mandar hidup dengan penghasilan melaut berkelompok di pesisir bagian timur pulau Masalembu.

Sedang suku Madura hidup dengan semangat religius yang sangat menjaga kehormatan wanita dan harga diri mereka dengan tanean lanjheng, sambil lalu bertani segala macam pala wija. Semangat religius yang tinggi itu menempatkan seorang wanita berada pada kehormatan tertinggi. Dimana batas tanean lanjheng merupakan suatu batas kehormatan seorang wanita, suatu batas keluarga batih. Masuk dalam batas itu berarti menghina seluruh keluarga, dan tidak ada jalan lain kecuali diselesaikan dengan carok.

Kesemua suku yang ada hidup dengan kehidupan yang mapan dan saling menguatkan. Semula, masing-masing suku di pulau Masalembu tidak memperbolehkan anak cucunya menikah silang, dengan kata lain seorang Madura tidak boleh menikah dengan seorang Bugis, Bugis tidak boleh menikah dengan Mandar dan seterusnya.

Namun lama kelamaan, sikap ekstrim seperti di atas berubah seiring berjalannya proses akulturasi budaya. Tidak hanya pernikahan, namun juga adanya pemakaian adat yang sama-sama diterima oleh ketiga suku terbesar di Masalembu.

Suasana rukun seperti ini terus berlanjut. Hingga pada tahun 80-an, Masalembu semakin harmonis, tidak ada Bugis yang rasis, tidak ada Madura yang merasa paling gagah, tidak ada Mandar yang merasa paling dulu mendapat sinar. Semua merasakan nikmatnya persatuan.

Dulu sekali, untuk melintasi laut dan sampai ke pulau Madura atau Jawa, orang Masalembu cukup melenggang di lautan dengan sebiduk perahu yang tak begitu besar. Dengan itu, masyarakat Masalembu sudah cukup memenuhi kebutahan mereka yang begitu kompleks barang waktu setahun.

***

Bercerita tentang Masalembu tahun 70-an tentu sangat mengagumkan. Semua kebutuhan terpenuhi dengan penuh kesadaran, proses hidup rukun yang penuh pertimbangan duduk sama rendah, tinggi sama mulia. Pemenuhan kebutuhan dilakukan sendiri tanpa banyak diatur pemerintah.

Masalembu pada masanya, mengalami kejayaan atas bimbingan para kepala suku dan pemuka agama. Pemerintah tidak banyak andil di dalamnya, seakan masyarakat Masalembu memiliki prinsip “Masalembu adalah bumi kami, jangan jajah dan jangan jarah, kami cukup hidup bersahaja!”.

Namun kalimat di atas kini tidak ada lagi, peralihan pemerintahan dari orde baru ke reformasi, membuat kesadaran memerintah dan berpolitik hidup dalam diri masyarakat Masalembu, banyak orang ingin menjadi penguasa dan memerintah di Masalembu tanpa sadar bahwa Masalembu bukan daerah kekuasaan.

Selain itu, kesadaran hidup “berdemokrasi” teradopsi secara tidak sadar, seperti seorang bayi yang tidak mau lagi menetek kepada Ibunya, karena secara tidak sadar mereka ditipu dengan pemahit rasa di puting ibu mereka agar tidak kembali menyusu. Ada sebuah kepalsuan dan kebodohan paradigma tentang demokrasi.

Perumpamaan bayi menetek seperti itu sama halnya dengan masyarakat Masalembu yang latah, melupakan suatu identitas kesatuan dan persatuan agar selalu menjadi suatu etnis yang berbudaya dan berkemanusiaan dalam mempertahankan dan menumbuhkan jiwa berkebangsaan dan bernegara Indonesia.

Selain itu, arus reformasi yang disebut-sebut sebagai euforia bagi masyarakat Indonesia mampu membuat suatu statemen baru dalam ideologi masyarakat Masalembu. Mereka menuhankan demokrasi tanpa memasukkan unsur-unsur kemanusiaan yang benar. Demokrasi dibahasakan sebagai suatu proses kesetaraan dan kebebasan untuk menggapai suatu kebahagiaan pribadi, bukan untuk kesejahteraan bersama.

Pasca reformasi, masyarakat Masalembu terutama kaum elit merancang kepengurusan serta membuat agenda kegiatan organisasi sosial. Tapi bukan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kejayaan Masalembu, melainkan untuk kesejahteraan pribadi dan golongan.

Walaupun dulu memang ada rasisme Bugis, Mandar, dan Madura di Masalembu. Namun apa yang diusahakan mereka berada di atas asas kesejahteraan golongan mereka untuk menumbuh-kembangkan sumber daya yang ada di Masalembu, ras adalah kehormatan bagi mereka, tapi kawasan Masalembu adalah kehidupan untuk bertahan, sehingga tidak ada pemenuhan kebutuhan secara rakus dan semena-mena terhadap alam.

Pada tahun 70-an, orang Masalembu tidak akan segan-segan mengusir suku sendiri yang membuat kerusakan di laut. Misalnya melakukan pemburuan berlebihan, melakukan penangkapan ikan yang semena-mena dan hal lain yang merugikan. Dari itu, di sisi lain mereka juga menjaga kelestariannya.

Sebagai bukti dari itu, ketika musim gelombang datang maka akan banyak orang meletakkan rompong di lautan sebagai tempat hidup satwa laut dan kelestarian terumbu karang, mereka secara gotong royong akan meletakkan daun-daunan dan bambu ke dalam laut untuk tempat hidup satwa laut.

***

Begitulah perkembangan kejiwaan masyarakat Masalembu dalam waktu yang cukup singkat. Sebuah indikasi bahwa kesadaran memimpin-menguasai tidak membuat Masalembu menjadi lebih baik.

Sebab itu mari datang ke Masalembu, sebuah pulau yang kini ditinggal jauh satwa burung “jambul kuning”, pulau dengan jalan yang rusak dari segala sisi. Pulau yang apabila ingin bepergian ke kota—Sumenep atau Jawa, harus menunggu kapal perintis seminggu lamanya.

Datanglah ke Masalembu, maka akan banyak pemandangan lembaga pendidikan yang para kepala sekolahnya hijrah ke Sumenep dan tidak tinggal di Masalembu. Sebuah kantor kecamatan dan desa yang kepala kantornya tidak ada di kantor kecamatan dan desanya.

Haha, mari lihat kembali dan mengenang tahun 70-an silam, apa yang berubah dari pulau Masalembu? Pulau yang begitu bening hingga mata indah memandang terumbu karang, atau satwa yang dulu indah berenang beterbangan.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sebenarnya tidak sesulit apa yang dipikirkan. Mari kita lihat Masalembu dari sisi manusianya sebagai pengendali budaya dan generator penggerak sistem sosial.

Jika tahun 70-an segala urusan diserahkan kepada kepala suku yang menjunjung tinggi kesejahteraan, melihat alam sebagai sahabat kehidupan. Saat ini banyak pemimpin Masalembu melihat tahta dan kekuasaan sebagai suatu kedudukan untuk meraih kebahagiaan pribadi. Tidak memperhatikan kawasan, satwa dan alam raya.

Melihat Masalembu pasca reformasi, sama seperti melihat sebuah perahu yang sudah dirakit dengan gotong royong dan dilayarkan ke laut lepas, terhempas badai dan gelombang. Semakin gaduh orang berbicara siapa yang salah dan bertanggung jawab atas semua tragedi musibah yang terjadi, semakin banyak pula yang terus menyalahkan orang lain sambil rakus mengambil segala kebutuhan pribadi yang bukan haknya.

Masing-masing orang bergegas ingin menjadi pemimpin, menggantikan jhermudi yang telah meninggal karena kapal telah tenggelam dan karam.

***

Masalembu, masyarakat dan kepemimpinan. Suatu hubungan setali tiga uang yang tidak bisa dipisahkan. Melihat kondisi yang tidak baik di pulau Masalembu, saya jadi teringat suatu puisi Tagore.

“Mereka bangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam…”

Dari puisi Tagore yang saya ingat ini, sebenarnya ingin digambarkan bahwa masyarakat yang ingin membuat “sistem sosial” yang baik harus dilakukan dengan material yang baik, baik sumber daya manusia, alam, dan waktunya. Sangat tidak akan mungkin seseorang membangun rumah dari pasir, atau merajut kapal dengan daun kering.

Jika Masalembu sebagai imvirontment diposisikan sebagai tempat hidup, masyarakat diposisikan sebagai elemen penopang dalam pewarnaan kehidupan, maka di sinilah pemimpin diharap menjadi jhermudi yang dalam filosofi nelayan selalu ada di belakang, untuk menunjukkan arah dan tujuan serta sebagai pengendali bagi seluruh penumpang.

Seorang jhermudi tidak lantas menjadi orang yang menyuruh dan menguasai perahu, jhermudi dalam prakteknya akan berusaha membuat penumpang nyaman dan mengarahkan perahu pada tujuan yang benar serta mengatur strategi menangkap ikan yang baik.

Hal ini perlu diangkat ke permukaan, bahwa seorang pemimpin utamanya bagi Masalembu, harus ikut menguasai filosofi kepemimpinan jhermudi ini. Dalam sejarah pelayaran, hampir tidak ada jhermudi yang mau menang sendiri dalam mengambil keputusan, tidak ada yang mau main kekerasan tanpa musyawarah. Sebab ada banyak pertimbangan yang harus diambil dan dipikirkan agar tidak semua penumpang kapal merugi atau bahkan tenggelam dan mati.

Misal begini, jika suatu saat datang ke Masalembu maka tanyakan pada nahkoda, apakah nahkoda bisa menjamin keselamatan pribadinya, jika kesalamatan penumpang kapal terancam? Nahkoda (jhermudi) dengan penumpang dan perahu atau kapal, kesemuanya adalah suatu kesatuan, tidak bisa didefinisikan satu sama lain secara parsial. Kapal tidak ada gunanya tanpa penumpang, atau jika keduanya ada tapi tidak ada nahkoda, maka pelayaran akan sangat tidak memungkinkan.

Begitulah prinsip pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin untuk Indonesia, seorang pemimpin untuk suatu kejayaan bangsa dan negara. Seorang pemimpin tidak boleh merasa tenang pada saat masyarakatnya merasakan kesengsaraan. Begitupun, seorang pemimpin tidak boleh merasa tenang jika alam sebagai tempat hidup dan berkehidupan rusak atau dirusak.

Jalan di Masalembu itu kawasan hidup untuk hidup, jadi jika terus dibiarkan rusak dan bergelombang dari segala sisi, maka riwayat akhir dari Masalembu adalah kematian yang disebabkan oleh pemimpin dan masyarakat secara umum.

Kembali pada jhermudi, dalam mencari ikan seorang jhermudi adalah seorang yang ikut melempar jala dan menariknya kembali ke atas perahu. Jika sudah selesai, maka jhermudi lagi yang bersusah payah melintasi laut mengarahkan perahunya. Memang sosok yang paling susah dalam menjala ikan (nelayan) adalah jhermudi, yang dalam sisi lain kesusahan dan pengorbanan itu dijawab dengan penghormatan, penghargaan dan jatah uang lebih dari yang lain. Nah, itulah sejatinya pemimpin.

Menjadi pemimpin dalam filosofi nelayan, adalah memberikan yang terbaik. Sedangkan hal lain berupa uang lebih, penghormatan dan kekuasaan itu adalah bonus yang diterima dari perjuangan besar tanpa harus diminta.

Seorang jhermudi dalam kamus nelayan, dia harus lebih tahu banyak tentang bagaimana cuaca dan cara menangkap ikan yang baik, akan sangat tidak mungkin jika keahlian seorang jhermudi di bidang nelayan berada di bawah rata-rata kawan-kawannya yang lain.

Hal seperti ini menjadi suatu cerminan bagi pemimpin, bahwa menjadi kepala adalah menafsirkan segala sesuatu dengan baik dan diaplikasikan secara positif-konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam arti lain, menjadi pemimpin adalah membuat suatu metode yang baik dengan belajar pada alam dan pengalaman. Sehingga dengan itu, ditemukan suatu metode yang baik dan diterima oleh masyarakat banyak. Hal ini menjadi suatu prioritas, karena kesatuan masyarakat yang baik akan membantu jalannya pemerintahan yang baik, masyarakat bersatu karena terjamin kesejahteraannya. Pemerintah bersatu karena terjamin pemerintahannya dan kesejahteraannya sebagai pejabat.

Mengingat kembali jhermudi, saya kembali mengingat bahwa setiap perahu memiliki satu jhermudi. Dalam arti lain, masing-masing jhermudi menjadi pemimpin yang baik bagi suatu kawasan yang kecil. Sehingga kapal pesiar dengan mudah berlabuh dan menurunkan segala kekayaan dan menukar barang dari suatu derah ke daerah lain tanpa takut jika suatu saat ada perahu kecil yang merampok perahu besar. Seperti halnya ada banyak daerah yang merampok kekayaan negara atau sebaliknya.

Unsur kesejahteraan dan pendidikan kepribadian yang baik menjadi penting, agar pemimpin masing-masing biduk menciptakan kesejahteraan bersama-sama anak buahnya untuk suatu masyarakat yang memiliki control social yang baik.

Maka datanglah ke Masalembu untuk melihat suatu drama hidup. Drama hidup yang buas memangsa yang jinak dan lemah, agar kita mampu mengingat bahwa dahulu Masalembu memiliki nasionalisme etnis dengan filosofi jhermudi, menjadi pengayom dan pelindung serta mampu dihargai dengan baik.

Bukankah sebuas-buas harimau jika selalu didekati dan dielus—dalam arti manusia, diberi pengertian—akan menjadi jinak. Turun bersama rakyat untuk suatu keutuhan negara dan kesejahteraan bersama, bangun dari desa sebagai suatu komunitas yang kompleks. Maka Indonesia akan menemukan jati diri secara sendirinya, sebagaimana sebuah perahu yang dipimpin oleh seorang jhermudi yang handal akan menemukan ketentraman dalam kapal serta memiliki kesejahteraan masing-masing tanpa malu lagi mengaku sebagai nelayan.

Jika demikian habislah kalimat “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”.

*Jhermudi adalah seorang pengemudi perahu dan penentu kebijakan aktivitas anggota nelayan bagi perahu yang dikemudikan. Umumnya berlaku dalam hubungan bernalayan masyarakat Masalembu.
**Esai ini menjadi esai terbaik dalam kompetisi esai yang diadakan TEMPO institute

Add comment Desember 7, 2009

Previous Posts


sejam semasa

Blog Stats

salam sapa

Gerbang Nirwana di Sebuah Kehangatan Cinta
mobil88 di Sebuah Kehangatan Cinta
Ach. Nurcholis Majid di Prita dan Kecemburuan Itu
orange float di Prita dan Kecemburuan Itu
ishlahuddin di Saudara Tamu
ishlahuddin di Saudara Tamu
Red di Saudara Tamu
Ach. Nurcholis Majid di Saudara Tamu
Red di Saudara Tamu
Ach. Nurcholis Majid di Saudara Tamu
Ishlahuddin Sari el-… di Saudara Tamu
Ach. Nurcholis Majid di Saudara Tamu
morning dew di Saudara Tamu
stainless tanks di ODHA DAN NURANI KEMANUSIAAN; S…
titis arti di ODHA DAN NURANI KEMANUSIAAN; S…

Sehari Selamanya

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Kategori

Lembar Terkini

Written by....

Lembar Apa?

Blogroll

Prolog

Pustaka Shohaif

sejabat saudara

free counters

saudara-saudara rindu

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.